Etika Remaja Minang

Dahulu orang Minangkabau terkenal dengan keluhuran budinya. Mereka sangat akrab dengan falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK), syara’ mangato, adat mamakai. Intinya semua tetek bengek kehidupan orang minang disesuaikan dengan syariat Islam. Tidak terkecuali dengan akhlak, budi pekerti, etika dan sopan santun orang minang, dulu semuanya bersandikan kitabullah.

Bukan bermaksud untuk menepuk air di dulang. Bukan pula berkeinginan untuk megkritik suku sendiri. Namun kenyataannya falsafah ABS SBK itu kini tinggallah kenangan indah yang manis untuk dikenang namun sangat sukar untuk diulang. Kini falsafah itu hanya akan menjadi untaian kata mutiara yang sulit di realisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai agama kini sudah mulai pudar, adat-istiadat pun kini satu persatu mulai menghilang. Etika anak Minang pun kini mulai dipertanyakan.

Satu hari pasca lebaran lalu, penulis bersama keluarga pulang kampung ke Pasaman Barat, tepatnya di nagari Sikabau. Tidak banyak yang tau mungkin tentang keberadaan  nagari sikabau ini, karena memang daerahnya yang terpencil. Dari kota Padang setidaknya membutuhkan waktu 8 jam dengan mobil pribadi, termasuk melewati kebun sawit selama 90 menit. Saking terpencilnya daerah ini dulu sebelum tahun 2000-an masyarakat disana belum ada akses transportasi darat, mereka dulu hanya menggunakan transportasi laut berupa kapal boat.

Nagari sikabau boleh terpencil, namun apabila lebaran datang menjelang, nagari sikabau pun menjadi tempat wisata yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat yang berasal dari daerah-daerah di kabupaten Pasaman Barat dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan pantainya yang indah dan pemandangan lautnya yang lepas, ditambah pemandangan muaronya  yang sangat menawan. Walau kebersihan daerah pantai ini masih belum terjaga dengan baik, namun pengunjungnya tetap saja bejibun datang kesana.

Cerita bermula ketika penulis dari Padang menuju ke Pasaman. Di sepanjang jalan penulis melihat begitu banyak para pemuda dan pemudi naik motor berboncengan dengan berpelukan. Laju motornya paling Cuma 30 km/jam, tapi yang anehnya kok pegangannya seperti motornya berkecepatan 130 km/jam. Penulis berpikir, di tengah jalan raya saja mereka berani berbuat seperti itu, apatah lagi di tempat sepi. Entah apa lagi yang berani mereka perbuat.

Cerita berlanjut ketika penulis sudah sampai di nagari Sikabau. Sore harinya penulis berjalan menyusuri pantai di sana. Walau pada hari biasa daerah ini sangat lengang, namun ketika lebaran menjelang, daerah ini banjir dengan anak manusia. Tua, muda, pria, wanita, berbondong-bondong dari berbagai pelosok kabupaten Pasaman Barat memadati daerah pantai di sana. Sang muda mudi pun memanfaaatkan betul momen ini. Ada yang mandi bersama di pantai, ada yang hanya berjalan santai berduaan menyusuri pantai sambil berpegangan tangan dengan pasangannya, ada juga yang mojok berduaan dibawah pohon kelapa sambil menikmati es kelapa muda.

Demikianlah sebagian perilaku anak muda Minang saat sekarang ini. Dan itupun baru perilaku anak Minang yang berada di daerah yang cukup terpencil dan jauh dari perkotaan. Lalu bagaimana dengan perilaku anak Minang yang ada di perkotaan, kalau yang di daerah terpencil saja sudah sedemikian hebatnya. Tidakkah mereka mengenal lagi batas-batas pergaulan antara pria dan wanita? Tidakkah mereka diajarkan lagi bagaimana beretika di depan umum? Salahkah mereka berbuat hal yang demikian?

Setiap orang tentu memiliki pandangannya masing-masing. Sebagian masyarakat menganggap hal demikian biasa-biasa saja, toh mereka sudah dewasa, buat apa dilarang-larang. Namun pendapat inilah kiranya yang perlu diluruskan bersama. Kalau mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal yang demikian di depan umum, bagaimanakah lagi ketika mereka berduaan di tempat yang sepi. Apapun bisa mereka lakukan. Lalu apakah hal yang demikian juga masih dapat dikatakan hal yang biasa?

Bukan bermaksud untuk men-generalisir semua anak muda Minang berperilaku demikian. Penulis yakin, ditengah carut-marut pergaulan pemuda saat sekarang ini, masih ada sebagian anak muda yang tetap memegang teguh nilai-nilai dan norma-norma agama dan adat istiadat di negri ini. Yang penulis sesalkan adalah sikap acuh tak acuh dari orang tua, ninik mamak, dan pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap degradasi etika anak muda Minang ini. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab, tetapi seolah berlepas tangan atas kekacauan dan carut marut pergaulan anak muda di ranah ini.

Setidaknya ada tiga unsur yang berperan dalam mempengaruhi perilaku dan etika seseorang, yaitu keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah. Ketiga unsur inilah yang paling bertanggungjawab atas degradasi etika anak muda saat ini. Keluarga sebagai madrasah pertama dan utama bagi seorang anak, sekolah atau lembaga pendidikan sebagai lembaga intelektual yang tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, serta masyarakat sebagai lembaga sosial tempat bersosialisasinya seseorang. Ketiganya memiliki peranan besar dalam mempengarudi etika seseorang.

Banyak kejadian di ranah ini, orang tua membiarkan dan parahnya malah menganjurkan anak remajanya pergi berduan bersama pacarnya. Tidak sulit kiranya bagi kita menemukan di daerah ini sepasang anak manusia yang berjalan berduaan berpegangan tangan di tengah keramaian. Sepertinya rasa malu itu kini sudah mulai hilang. Ditambah kepedulian masyarakat pun mulai berkurang. Semuanya serba diperbolehkan, termasuk yang tidak dibenarkan dalan ajaran Islam. Sistem nilai itu kini sudah rusak. Nilai agama, nilai adat-istiadat, norma dan etika kini hanya sebatas formalitas semata. Semuanya dipakai hanya untuk acara formal saja.

Di sebagian kota dan kabupaten sekarang memang sudah ada usaha menyelenggarakan pesantren ramadhan sebagai salah satu upaya membumikan kembali ABS SBK di hati anak muda Minang. Namun terkadang para santriwan dadakan tersebut hanya sadar ketika mengikuti pesantrren ramadhan saja. Selepas ramadhan lulusan pesantren tersebut tidak lagi memperlihatkan perilaku sebagai alumni pesantren ramadhan.

Hal ini kiranya perlu menjadi pemikiran bersama bagi kita, bagaimana baiknya tindak lanjut dari pesantren ramadhan ini. Jangan sampai para santri tersebut hanya sadar ketika pesantren saja. Perlu adanya follow up, sehingga mereka tidak dilepas begitu saja setelah pesantren ramadhan tersebut.

Ditengah semakin kencangnya degradasi etika yang dialami anak muda Minang saat ini, pihak-pihak yang masih peduli akan nasib negeri ini ke depannya hendaklah memikirkan dengan serius berbagai solusi mengenai degradasi etika dan moral anak Minang. Perlu adanya sinergisitas antara pihak keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat untuk mengatasi permasalahan ini. Semoga setiap pihak menyadari pentingnya peranan mereka masing-masing untuk mengatasi persoalan ini. Dan kita berharap tidak ada lagi yang berlepas tangan dalam hal ini demi terbentuknya generasi muda yang bermoral dan beretika.

Tulisan ini pernah di publikasikan di harian  Singgalang September 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s