Rohis dan LDK Penyebar Paham Terorisme dan Radikalisme?

Oleh: Tomi Wardana

Pihak-pihak yang memiliki sifat hasad dan dengki terhadap Islam dan kaum Muslimin saat ini kembali menyebar fitnah. Kali ini yang menjadi korban adalah Rohani Islam (Rohis) dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Mereka menyebarkan fitnah bahwa Rohis di sekolah-sekolah dan LDK di kampus-kampus merupakan salah satu tempat penyebaran pemikiran terorisme dan radikalisme yang subur. Sepertinya permusuhan pihak-pihak yang tidak senang terhadap Islam, semakin menampakkan eksistensinya. Mereka merupakan orang-orang yang mengaku Islam, namun mereka sendiri takut dengan kemajuan dan perkembangan Islam (Islam Phobia).

Para tokoh Islam Phobia kini terus berusaha dengan sekuat tenaga menghalangi perkembangan dan pertumbuhan Islam khususnya di Indonesia. Mereka menyeret-nyeret berbagai Lembaga yang notabene telah berperan besar dalam kemajuan Islam di Indonesia, dan telah nyata memberikan kontribusinya dalam pencerahan dan perkembangan Islam. Dengan maksud tertentu, para Islam-phobia ini memberikan stigma negatif terhadap Rohis dan LDK. Mereka menyebarkan fitnah tersebut dengan tujuan supaya masyarakat terus mencurigai dan mewaspadai aktivis rohis dan LDK, yang mereka anggap kemungkinan besar nantinya akan menjadi teroris. Tak ayal, stigma negatif ini mengakibatkan orang tua dari siswa dan mahasiswa merasa khawatir apabila anak-anaknya menjadi aktifis Rohis atau LDK.

Pencitraan negatif rohis dan LDK sebagai salah satu tempat penyebaran pemikiran terorisme dan radikalisme oleh orang-orang yang memiliki sifat phobia terhadap Islam merupakan hal yang salah kaprah dan tanpa bukti yang jelas dan kuat. Alasan yang mereka berikan terlihat hanya dibuat-buat. Bahkan alasan tersebut lebih bersifat sebagai ajang mencari sensasi dan popularitas semata. Tanpa  mengetahui bagaimana sistem pembinaan yang dilakukan rohis dan LDK, mereka  mengumbar fitnah di berbagai forum dan kesempatan, tujuannya tak lain agar citra aktivis islam khususnya aktivis rohis dan LDK semakin hancur di mata masyarakat.

Tak kalah hebohnya, mereka juga menyarankan polisi untuk mengawasi ceramah-ceramah yang dilakukan selama Ramadhan. Alasannyakarena kegiatan keislaman yang meningkat selama bulan Ramadhan, termasuk yang digelar di kampus-kampus, berpotensi disusupi ajaran terorisme. Sungguh amat sangat disayangkan, apabila terorisme dan radikalisme masih saja dikaitkan dengan Islam. Padahal sampai saat ini bangsa Indonesia sendiri belum mampu menemukan defenisi yang tepat untuk menjelaskan tentang terorisme dan radikalisme. Kebanyakan mereka yang Islam phobia mengambil referensi dari Amerika yang telah mengumandangkan perang terhadap terorisme yang notabene perang terhadap Islam semenjak tragedi WTC.  Maka tidak mengherankan apabila umat Islam selalu menjadi korban fitnah, karena yang mereka jadikan sebagai referensinya adalah Amerika dan antek-anteknya.

Permasalahan terorisme dan radikalisme di Indonesia tidak akan pernah ada ujungnya, andaikata pihak-pihak yang mengambil keuntungan di air keruh ini masih saja dijadikan rujukan mengenai permasalah terorisme di Indonesia. Pasalnya, mereka akan terus menyudutkan berbagai pihak yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Islam. Mereka tidak akan pernah senang dengan perkembangan pergerakan Islam, yang saat ini dengan nyata sudah mulai menggeliat dan menunjukkan eksistensinya. Rohis dan LDK saat ini telah banyak menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Khusus untuk LDK hampir di seluruh kampus di Indonesia, baik negeri maupun swasta saat ini telah memiliki LDK.

Rohis dan LDK merupakan sebuah wadah pembinaan bagi siswa dan mahasiswa dalam membentuk pribadi muslim seutuhnya, agar dapat menjalankan Islam secara kaffah, sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Rohis dan LDK pun dengan sangat jelas menyatakan Al quran dan Hadits sebagai pedoman. Jadi, tuduhan kepada Rohis dan LDK sebagai tempat penyebaran pemikiran terorisme di sekolah dan kampus, secara tidak langsung telah menuding Al- Quran dan Hadits mengandung ajaran terorisme dan radikalisme. Tudingan yang teramat kasar, dan sangat menyakitkan hati bagi umat muslim. Demikianlah cara mereka menipu umat Islam. Dibalik tudingan mereka kepada Rohis dan LDK itu, namun sebenarnya target dari mereka adalah untuk menyudutkan Islam dengan cara yang halus.

Hal yang amat disayangkan juga, masyarakat Indonesia sangat mudah terprovokasi dengan isu-isu murahan seperti ini. Orang tua, guru, dan dosen kini mulai ikut-ikutan mencurigai Rohis dan LDK sebagai wadah penyebaran pemikiran radikalisme dan terorisme. Alangkah bijaknya apabila isu-isu murahan seperti ini ditanggapi dengan proposional, dan penyelesaian yang tepat. Bukannya malah membabi buta dengan menuding berbagai pihak sebagai tempat penyebaran pemikiran radikalisme dan terorisme.

Sudah saatnya Umat Muslim di Indonesia bersikap bijaksana dan cerdas dalam menanggapi isu terorisme dan radikalisme ini. Di Barat sana, Islam terus disudutkan tapi dampak dari disudutkannya Islam malah menambah keingintahuan masyarakat Barat kepada Islam. Dan banyak data yang mengabarkan bahwa tidak sedikit dari masyarakat Barat yang malah mendapatkan  hidayah setelah mengetahui dan mendalami Islam. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam tanpa paksaan dari siapapun.

Di Indonesia saat ini malah terjadi sebaliknya. Ketika Islam mulai disudutkan, Umat Islam banyak yang menjauh dari ajaran Islam. Mereka takut dituduh teroris apabila menjalankan sunnah Rasul. Sedikit sekali dari mereka  yang mau memanjangkan janggut, memendekkan celana di atas mata kaki, dan memakai pakaian sesuai dengan tuntunan Islam. Alasan mereka karena takut dicap sebagai teroris. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar umat Islam di Indonesia belum memahami betul bagaimana ajaran Islam yang sebenarnya, sehingga amat mudah terprovokasi dengan isu-isu murahan seperti itu.

Apabila agama kita dijatuhkan oleh orang yang memiliki sifat hasad dan dengki pada Islam dan kaum Muslimin, seharusnya dapat menambah keinginan kita untuk memperdalam ajaran agama kita. Dan kemudian mengamalkan ajaran Islam itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah masyarakat yang cerdas dan tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang menyudutkan Islam. Sudah cukup Islam disudutkan, sudah cukup Islam dihinakan. Saatnya mendalami Islam dan mengamalkannya dalam keseharian kita. Al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih, sesungguhnya Islam itu tinggi dan tak ada yang melebihi ketinggiannya.

Tulisan ini pernah di publikasikan November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s