Dari Sejarah hingga Bencana Laporan Seminar Revolusi Biru dan Penanggulangan Bencana di Sumatra Barat

Oleh: Tomi Wardana

Pada tanggal 7-8 Agustus 2010 lalu, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang bekerjasama dengan Gebu Minang dan Departemen Kelautan dan Perikanan RI mengadakan kegiatan Seminar Revolusi Biru dan Penanggulangan Bencana dalam rangka Pra Kongres Kebudayaan Minangkabau. Seminar ini diselanggarakan selama dua hari diluar ruangan bertempat di Halaman Mercusuar Distrik Navigasi KLS II Teluk Bayur Padang dan menghadirkan dua belas orang pembicara dari latar belakang yang berbeda serta dihadiri oleh lebih dari seratus orang peserta yang didominasi mahasiswa.

Seminar pada hari pertama membahas enam topik pembahasan dan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dengan tiga orang pembicara membahas topik Pemberdayaan Masyarakat Pesisir yang disampaikan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, Pemanfaatan dan Konservasi Bahari Pesisir Sumatra disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sumbar dan Potensi Bahari dan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir disampaikan oleh Martono Yuwono.

Masih pada hari pertama sesi kedua, penyelenggara kembali menghadirkan tiga orang pembicara dengan topik Membangun Terobosan Nagari oleh Ir. H. Ermawan Jamin Dt. Tan Maliputi, Hukum Laut dan Masyarakat Pesisir oleh Hasyim Gjalal, dan Pengamanan Kawasan Pesisir Barat Sumbar oleh Komandan Lantamal II.

Pada Hari kedua sesi pertama seminar ini kembali dilanjutkan dengan topik bahasan Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Bahari oleh Pontjo Sutowo, Bahari dalam Perspektif Sejarah oleh Prof. Gusti Asnan, dan Budaya Masyarakat Pesisir oleh Dra. Maryetti, M.Hum. Sesi kedua pembahasan dilanjutkan dengan topik Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir oleh Drs. Martius, Bencana dan Morfologi Kota oleh Prof. Dr. Eko Alvares, serta Tsunami dan Peringatan dini oleh Michael Hoppe.

Kegiatan seminar ini memaparkan fakta-fakta sejarah, ekonomi dan sosio-kultural masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Minangkabau khususnya dalam kaitannya dengan berbagai kondisi objektif yang ada dan berkembang di dunia bahari-maritim. Berbagai macam pemikiran muncul baik dari narasumber maupun dari peserta seminar.

Beberapa point penting yang muncul selama dua hari seminar ini adalah: pertama, berkembangnya iklim tradisi agraris di Indonesia umumnya dan Sumbar khususnya telah berdampak pada semakin melemahnya tradisi bahari-maritim. Oleh karena itu, kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat yang berdiam di kawasan pesisir semakin sulit diwujudkan.

Kedua, masyarakat Minangkabau memiliki karya-karya historiografi tradisional, semisal tambo dan berbagai cerita rakyat dalam berbagai genre yang memuat banyak informasi tentang kehidupan maritim masyarakat di masa lalu. Hal tersebut perlu pengkajian yang lebih mendalam. Ketiga, berbagai peristiwa dan kejadian bencana beberapa tahun belakangan sering melanda Indonesia pada umumnya dan Minangkabau khususnya, namun hal tersebut belum berimplikasi pada semakin kuatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam aspek mental spiritual maupun aspek sosial budaya.

Keempat, secara historis kota Padang dan beberapa kota di Sumbar berkembang di jalan-jalan lama yang tumbuh secara linear. Konsekuensinya semakin rendah tingkat kemiskinan masyarakat, maka akan semakin tergusurlah mereka ke daerah pinggiran, sehingga semakin jauhlah kehidupan mereka dari sejahtera secara ekonomi maupun social budaya.

Dalam seminar ini menghasilkan tujuh rekomendasi. Pertama, dengan menguatnya keinginan pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali tradisi kultur maritim di Indonesia pada umumnya dan di Minangkabau khususnya perlu  adanya dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam rangka memperbaiki paradigma masyarakat terhadap laut dan mengupayakan berbagai langkah strategis untuk mensejahterakan masyarakat pesisir.

Kedua, perlu kiranya menggiatkan upaya-upaya pengkajian yang lebih komprehensif terhadap berbagai karya historiografi tradisional Minangkabau, semisal tambo dan berbagai cerita rakyat yang ada dengan menggunakan berbagai metode yang relevan. Hal ini dinilai krusial mengingat di dalam berbagai karya tersebut tersimpan banyak nilai-nilai kearifan lokal masyarakat yang layak untuk diidealisasi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat sekarang dan kedepannya. Kesemuanya tentu dalam kerangka menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terhadap laut.

Ketiga, dalam rangka memberdayakan masyarakat pesisir, terutama untuk mendukung revolusi biru, perlu dikembangkan prinsip empowerment yaitu melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengembangan ekonomi kawasan pesisir dan prisip entrepreneurship yaitu menciptakan peluang-peluang usaha baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Keempat, sekaitan dengan kegiatan pengembangan pelaksanaan peringatan dini di Kota Padang khususnya dan Sumbar umumnya maka perlu ditanamkan sikap siaga bencana tsunami. Hal ini dapat diindikasikan dengan meningktnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap resiko tsunami, menerima dan memahami peringatan tsunami dari BMKG, sekaligus arahan dari Pemda/Pemko, serta melakukan upaya-upaya yang berimplikasi pada bertambahnya pengetahuan tentang cara bertindak cepat dan tepat terhadap peringatan tsunami.

Kelima, perlu upaya penguatan visi dari pemda dan masyarakat terhadap laut, sehingga semangat untuk menggali berbagai potensi yang terkandung di laut semakin tumbuh dan berkembang. Keenam, revolusi biru seyogianya dimulai dari Sumbar. Maka masyarakat harus siap menjadikan lautnya sebagai zona eksklusif perairan internal yang mereka kuasai secara de facto sebagai ulayat laut masyarakat Sumbar. Dengan berdasarkan pada filosofi ABS SBK, system yang dikembangkan tentunya bukan lagi system liberal-kapitalis. Ketujuh, penting kiranya melibatkan nagari-nagari di Sumbar beserta pranata sosial yang ada dimasysrakat.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s