Dilema Lagu Anak Indonesia

Oleh: Tomi Wardana

Ketika memasuki awal tahun sembilan puluhan, kita masih sering mendengar lagu-lagu yang diperuntukkan bagi anak-anak di Indonesia. Lagu anak yang disiarkan melalui berbagai stasiun televisi dan radio saat itu memang mampu menarik perhatian pasar terutama anak-anak. Namun akhir-akhir ini kita rasakan bersama lagu anak Indonesia tengah berada pada titik nadir. Dimana sangat jarang sekali kita bisa menikmati dan mendengar lagu khusus untuk anak-anak yang disiarkan melalui media elektronik.

Prihatin rasanya ketika anak-anak Indonesia saat ini menyanyikan lagu-lagu yang sebenarnya bukan diperuntukkan bagi mereka. Anak-anak yang seharusnya memiliki dunia yang berbeda dengan orang dewasa seolah ‘dipaksa’ memasuki dunia orang dewasa melalui syair-syair lagu yang tengah top hits di pasaran. Dan lagu yang sedang top hits tersebut hampir semuanya bertemakan masalah cinta orang dewasa. Kalaupun ada yang tidak bertemakan cinta, cuma satu atau dua lagu yang bertemakan tentang persahabatan.

Hal yang wajar sebenarnya ketika masyarakat Indonesia mempunyai harapan besar ketika ada program televisi yang mencari dan memandu bakat menyanyi bagi anak-anak. Masyarakat berharap nantinya dapat memberikan manfaat yang besar bagi  anak-anak di Indonesia. Dimana anak-anak Indonesia mampu mengaktualisasikan diri dengan menyalurkan bakat dan minat mereka melalui dunia tarik suara.

Namun sayangnya, kemasan yang disajikan pada acara-acara tersebut masih saja ‘memaksa’ anak-anak untuk menjadi dewasa bukan pada waktunya. Acara tersebut belumlah dikemas secara apa adanya sesuai dengan perkembangan pikiran anak-anak. Hal tersebut dapat kita tengarai salah satunya melalui jenis lagu yang dibawakan para kontestan cilik tersebut. Hampir semua lagu yang mereka bawakan adalah lagu orang dewasa. Akhirnya, kita tidak dapat melihat letak itikad baik dari stasiun televisi tesebut, melainkan hanya eksploitasi anak-anak untuk mengejar rating acara yang ujung-ujungnya adalah keuntungan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Kita tonton di salah satu ajang pencarian bakat penyanyi cilik di salah satu stasiun televisi nasional, hampir sembilan puluh persen lagu yang dibawakan para kontestan cilik tersebut adalah lagu dewasa yang bertemakan cinta. Seolah tampak dengan sangat jelas bahwa tujuan acara tersebut bukanlah untuk mengembangkan bakat si anak, namun yang sesungguhnya tujuan utama acara tersebut adalah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menaikkan rating acara tersebut. Caranya dengan ‘memaksa’ sang kontestan cilik menyanyikan lagu-lagu yang tengah top hits di pasaran. Dan yang lebih memprihatinkan ketika sang kontestan cilik dengan polosnya menggunakan kostum yang tidak sepantasnya mereka pakai.

Kalau kita mengenang masa sepuluh tahun ke belakang, blantika musik anak-anak masih dihiasi dengan lagu-lagu anak yang mendidik dan memang bertemakan dunia anak. Kita ingat waktu itu masih banyak para pencipta lagu yang kreatif mampu menghasilkan berbagai lagu anak. Beberapa diantaranya adalah Papa T. Bob, Kak Seto, Bu Kasur, A T. Mahmud, dll. Namun saat ini, hampir semua lagu yang dinyanyikan penyanyi cilik kita adalah lagu dewasa yang sebetulnya tak pantas mereka yang menyanyikan.

Lagu yang dibawakan para penyanyi cilik kita saat ini bukan lagi lagu yang bertemakan dunia mereka, namun lebih dominan lagu dewasa bertemakan cinta. Contohnya saja pada genre pop mereka sudah terbiasa membawakan lagu-lagu berjudul teman tapi mesra, ketahuan, rindu setengah mati, dll. Dan bahkan ada juga lagu dangdut yang biasa dibawakan penyanyi cilik tersebut, seperti kucing garong, cucak rowo, putri panggung, dll.

Melihat kondisi yang demikian, keadaan di masyarakat malah lebih memprihatinkan lagi. Dimana orang tua bahkan sangat senang bukan kepalang ketika anak-anaknya mampu menyanyikan dengan fasih syair-syair cinta pada tembang yang tengah menjadi top hits di pasaran. Namun sangat disayangkan ketika para orang tua tersebut tak pernah risau seandainya anak mereka masih belum mampu dengan lancar membaca Al Quran apalagi mampu menghafal ayat-ayat Al Quran.

Realita yang demikian adalah potret nyata kondisi di masyarakat kita. Dimana tak ada lagi kepedulian dari orang tua terhadap perkembangan yang baik dari kepribadian anaknya. Mereka seolah hanyut dengan hiruk-pikuk arus globalisasi yang tengah menghadang. Bagi mereka yang penting anaknya bisa mengikuti perkembangan zaman, baik ataupun buruk yang penting modern! Begitulah prinsipnya. Walaupun hal itu sebenarnya tidak lagi sesuai dengan budaya ketimuran yang ada pada kita namun mereka tetap saja membeo mengikutinya.

Kedepannya kita berharap bagaimana anak-anak Indonesia bisa dididik dengan baik dan dengan sentuhan yang mengena. Sepatutnya pihak-pihak terkait mulai memikirkan kembali bagaimana caranya agar anak-anak Indonesia disuguhi tayangan dan acara yang educated. Jangan lagi mereka di cekoki dengan acara dan lagu-lagu orang dewasa yang hanya menghasilkan generasi anak-anak yang cepat dewasa, kurang etika, dan tidak cerdas sehingga muara dari semuanya akan menjadikan mereka generasi beo.

Kalau kita mau memikirkan solusi dari permasalahan ini bersama, maka kita berharap anak-anak Indonesia sebagai generasi pelanjut estafet perjuangan bangsa nantinya tidak lagi menjadi generasi karbitan yang lemah dan mudah terlindas zaman. Namun kita menginginkan generasi penerus bangsa ini adalah generasi kuat nan berkarakter dan beretika serta mampu menjawab tantangan zaman pada setiap masanya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang Februari 2010

Iklan

One comment on “Dilema Lagu Anak Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s