Kemandulan Ormas Islam di Mata Ummat

Oleh: Tomi Wardana

Cobaan dan ujian seolah tak pernah bosan melanda bangsa Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia kembali disentakkan dengan meletusnya bom dikawasan Mega kuningan. Air mata bangsa kembali mengalir, Indonesia kembali goncang, teroris kembali beraksi, umat Islam pun kembali dituding sebagai pelaku bom bunuh diri.

Terorisme kembali diidentikkan dengan Islam. Nama-nama yang dituding sebagai teroris pun sangat dekat dengan ummat Islam. Sebut saja nama Muhammad, Nur, Dien, Azhari, dan lain sebagainya. Kalaulah kita bertanya, Ummat Islam mana yang tidak kenal dengan nama Muhammad? Beliaulah Nabi akhir zaman yang telah membawa Agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh Alam.

Namun apa yang mau dinyana, sekarang nama Muhammad telah identik dengan nama pelaku teroris. Ummat kembali berpikir seratus juta kali untuk memberikan nama anaknya dengan nama-nama yang Islami. Karena mereka khawatir, dan mereka pun tidak rela nama anaknya sama dengan nama pelaku teroris.

Sungguh aneh bangsa ini. Disini kebenaran sulit untuk diungkap, yang benar bisa jadi salah, dan yang salah pun bisa jadi benar. Presiden RI beberapa waktu setelah meledaknya bom di Mega Kuningan, pernah mengungkap data intelijen kepada publik. Data intelijen menunjukkan kalau peledakan kali ini, besar kemungkinan berkaitan dengan kondisi politik yang mulai memanas. Presiden pun memberi isyarat, berkemungkinan juga aktor intelektual dari ledakan di Mega Kuningan ini adalah salah satu capres atau cawapres yang tidak senang dengan hasil pemilu.

Namun kembali yang bermain disini adalah kepentingan. Kepentingan asing, atau kepentingan ummat. Kalaulah kepentingan asing yang lebih kuat, Islampun kembali dicap sebagai agama teroris. Media dengan gegap gempita mengkampanyekan Islam identik dengan terorisme. Saat ini, kepada siapakah ummat harus mengadu ditengah kegalaun yang melanda? Kepada Ormas Islamkah, yang kini sudah mulai mandul ditengah kerisauan ummat?

Mengapa ormas Islam yang katanya membela ummat, kini hanya diam seribu bahasa. Partai Islam yang katanya membela kepentingan ummat Islam, kini hanya sibuk menghitung kursi di parlemen. Lalu ormas Islam mana lagi yang akan memperjuangan aspirasi ummat? Tak sedikit ormas yang mengatakan dirinya sebagai pembela umat. Sebut saja Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), Partai Keadilan Sejarhtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan berbagai organisasi masa yang katanya membela kepentingan umat Islam, kini mereka hilang dari peredaran.

Mereka hanya bisa diam membisu ketika Islam kembali dikaitkan dengan terorisme. Terlalu sibukkah mereka dengan urusan pribadi mereka? Hingga sudah tidak peduli lagi dengan kondisi ummat yang sangat resah dengan situasi saat ini. Sudah lupakah mereka dengan berbagai persoalan ummat yang mulai meradang ditengah keedanan zaman?

Seharusnya mereka malu menyebut diri sebagai ormas Islam kalau hanya bisa bersuara ketika kondisi normal. Mereka hanya bisa mengkampanyekan Islam ketika Islam tidak sedang dituding dan disudutkan. Namun ketika Islam mulai disudutkan ke lembah yang hina, mereka hanya diam duduk terpana. Tak ada yang bergerak memperjuangkan ummat ini. Tidakkah pernah ada niat bagi mereka, bersatu meluruskan opini yang terlanjur terbentuk, kalau Islam itu identik sebagai teroris.

Wahai Ormas yang memperjuangkan ummat, engkau itu harapan ummat. Janganlah berdiam ketika Islam diinjak-injak. Janganlah membisu ketika Islam diidentikkan dengan teroris. Orang mengikuti sunnah Rasul kini dicuragai sebagai teroris. Lelaki muslim dengan janggutnya, Perempuan muslimah dengan hijabnya, mereka kini dicurigai sebagai teroris. Lalu apa yang bisa kalian berikan?

Pencerahan apa yang bisa kau berikan untuk ummat ini wahai ormas Islam? Jangan hanya bisu ditengah keedanan ini, sudah saatnya kau meluruskan opini yang sengaja dilencengkan oleh pihal-pihak yang tidak senang dengan Islam. Wahai ormas Islam, kini kau merupakan tumpuan bagi ummat ini. Jangan bertindak sebagai pengecut dan pecundang, tapi bertindaklah sebagai pemberani dan pemenang.

Tulisan ini pernah dipublikasikandi harian singgalang Juli 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s