Melestarikan Seni Shalawat Dulang di Minangkabau

Oleh: Tomi Wardana

Shalawat dulang merupakan salah satu tradisi seni Minangkabau yang mulai pudar digilas arus globalisasi. Menurut literature yang penulis peroleh, kesenian tradisional Minangkabau yang satu ini mulai muncul pada zaman Syeikh Burhanuddin di Pariaman yang biasa disebut dengan Salawik jo Dulang. Mulai hilangnya kesenian ini di tengah-tengah masyarakat sebenarnya adalah hal yang cukup memprihatinkan karena Shalawat dulang merupakan salah satu kekayaan seni yang patut dipertahankan.

Shalawat dulang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari alat yang digunakan sebagai sumber musik untuk mengiringi syair-syair yang didendangkan, yaitu dulang. Dulang adalah sebuah benda yang berbentuk seperti piring, tetapi ukurannya lebih besar dibandingkan piring yang biasa digunakan untuk makan. Dulang terbuat dari bahan sejenis tembaga, jadi ketika dipukul dulang tersebut akan mengeluarkan nada yang khas. Nada yang berasal dari dulang itulah yang digunakan sebagai musik pengiring syair.

Banyak yang salah tafsir ketika seseorang mendengar istilah Shalawat dulang, apalagi yang belum pernah menyaksikan shalawat dulang. Shalawat dulang tidaklah sepenuhnya menggunakan syair-syair shalawat yang berbahasa Arab. Shalawat hanya didendangkan para pendulang pada saat pembukaan saja. Setelah pendulang menaiki panggung, pendulang tidak langsung memukul dulangnya. Mereka terlebih dahulu mengucapkan shalawat.

Setelah mengucapkan shalawat, pendulang akan mengucapkan kata-kata kehormatan untuk para penonton dan ucapan terima kasih kepada tuan rumah atau pihak penyelenggara. Ucapan shalawat, kata-kata kehormatan dan ucapan terima kasih disampaikan pendulang dengan menggunakan irama dendang. Setelah pembukaan selesai, barulah pendulang memukul dulang dan mulai mendendangkan syair-syair dalam bahasa Minang.

Syair-syair yang dilantunkan oleh pendulang tidak hanya mengandung nilai estetika tetapi juga berisikan nilai-nilai etika yang sangat sesuai dengan adat dan syara’ atau agama. Nilai-nilai etika tersebut disampaikan pendulang melalui syair-syairnya dalam bentuk pesan moral.

Misalnya mengenai pergaulan muda-mudi di Minangkabau yang pada umumnya telah menjurus kepada pergaulan bebas sehingga terkesan seperti zaman jahiliah. Malu dan sopan yang tidak lagi tercermin dalam keseharian generasi muda Minangkabau. Untuk menyikapi kondisi itu para pendulang mendendangkan syair-syair yang menganjurkan generasi muda Minangkabau menjauhi pergaulan bebas agar tidak lahir penyesalan dikemudian hari.

Dalam pelaksanaannya pendulang tampil berpasangan (berdua). Sambil serentak memukul dulang, mereka berbalasan mendendangkan syair. Bila disimak secara saksama, maka akan jelas terdengar bahwa mereka melakukan tanya jawab dalam dendang. Sangat menarik, apalagi melihat gerakan tubuh pendulang yang cukup unik mengiringi musik dan syair yang mereka dendangkan.

Tradisi seni Shalawat dulang memang semakin langka dari masa ke masa. Salah satu penyebab langkanya tradisi ini adalah kurangnya minat generasi muda Minangkabau untuk mempelajari Shalawat dulang. Padahal jika kita lihat dari segi manfaat, Shalawat dulang jelas lebih bermanfaat bila dibandingkan dengan sarana hiburan modern. Cobalah bandingkan dengan Orgen tunggal dan sarana hiburan modern lainnya yang telah menjadi pilihan utama masyarakat Minangkabau sebagai sarana hiburan.

Memang pilihan akan sarana hiburan merupakan hak masyarakat, tetapi yang perlu menjadi pertimbangan bagi kita semua adalah sejauhmana kita menghargai seni tradisional kita. Akankah kita diam saja melihat seni tradisional kita satu persatu mulai menghilang?

Sudah saatnya masyarakat Minangkabau sadar dan berpartisipasi aktif melestarikan tradisi seni Minangkabau yang kian lama kian pudar. Sangat disayangkan, masyarakat Minangkabau yang dulunya kaya akan seni tradisional sekarang terhanyut oleh seni modern yang asalnya tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Padahal seni tradisional dapat dikategorikan sebagai salah satu identitas bagi masyarakat Minangkabau. Artinya, ketika satu persatu tradisi seni Minangkabau punah maka secara berangsur-angsur – tanpa disadari – identitas orang Minangkabau pun akan hilang.

Untuk menjaga identitas itu, sudah sepatutnya pula kita sebagai orang Minangkabau secara bersama-sama, baik yang berada di perantauan maupun yang berada di ranah Minang sendiri, melestarikan dan mengembangkan tradisi seni yang telah mulai langka. Salah satu cara pelestarian yang sederhana adalah dengan menjadikan seni tradisional sebagai pilihan utama untuk hiburan, baik dalam pesta keluarga, acara pemerintahan, terutama sekali dalam perhelatan alek nagari.

Belajar dan menyukai seni modern tidaklah salah, tetapi akan lebih bermanfaat jika seni modern tersebut kita manfaatkan untuk memperkaya seni tradisional. Dengan demikian, perkembangan seni modern tidak akan menggusur atau bahkan menghilangkan seni tradisional. Mungkinkah semua itu bisa terwujud? Semuanya dipulangkan kembali kepada masyarakat Minangkabau, jika tidak ingin kehilangan identitas tentunya semua pihak harus segera mengambil andil dalam melestarikan tradisi seni yang masih ada.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang Juli 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s