Mempertanyakan Etika Polantas

Oleh: Tomi Wardana

Etika adalah kata lain dari moral. Artinya, tata cara berperilaku yang baik, yaitu yang sesuai dengan nilai-nilai yang baik, aturan yang baik, tujuan yang baik, menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, dan sebanyak-banyaknya memberi manfaat untuk orang lain. Karena itu, setiap perilaku yang tidak sesuai dengan tata cara yang baik dan merugikan orang lain, adalah perilaku yang tidak etis.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi sebagai polisi lalu lintas (Polantas) merupakan profesi yang rawan dengan tindak korupsi ataupun suap.  Mungkin hampir semua pembaca pernah ditilang oleh polantas, dan kebanyakan dikarenakan polantas tersebut yang mencari-cari kesalahan. Ujung-ujung dari tilang tersebut adalah duit, terlepas apakah duit tersebut memang untuk negara atau malah nangkring di saku sang polantas tersebut. Bukan bermaksud mendeskriditkan polantas secara keseluruhan namun penulis hanya ingin agar polantas kedepannya memegang teguh etikanya sebagai pelayan masyarakat.

Polantas sebetulnya adalah profesi yang mulia, bahkan penulis pernah menyaksikan bagaimana polantas masih tetap sabar mengatur arus lalu lintas dikala hujan ataupun ditengah teriknya matahari, sehingga hal ini sempat menimbulkan simpati dari penulis. Bagaimana kesabaran polantas tersebut mampu menjalankan tugasnya dalam berbagai kondisi dan cuaca merupakan hal yang patut diapresiasi oleh masyarakat dan harus tetap dipertahankan.

Namun citra positif ini ternyata tak selamanya mampu disampaikan oleh semua polantas. Masih banyak polantas yang malah tidak memahami bagaimana kemuliaannya sebagai polantas. Ia malah sibuk mencari-cari kesalahan dari pengendara bermotor. Oknum ini bisa dikatakan mereka-mereka yang haus dengan uang, kejujurannya bisa dibeli dengan uang senilai tiga puluh ribu rupiah. Sesungguhnya tanpa mereka sadari, dengan berbuat demikian harga dirinya sebagai pelayan masyarakat telah dijual dengan harga yang teramat murah.

Adalah hal yang sangat miris, ketika polantas tidak lagi memiliki etika, dan mengabaikan kode etik kepolisian. Slogan yang menyatakan dirinya sebagai pelayan masyarakat ternyata hanya dijadikan lips service saja. Bagaimana bisa melayani masyarakat, kalau ternyata dalam mindset polantas tersebut masih menjadikan masyarakat sebagai lumbung uang. Bahkan pelayanan yang seharusnya menjadi kewajibannya tidak dijalankan dengan baik dan malah kesangaran dan kegararangannya yang ditunjukkan pada masyarakat. Seolah ia sebagai polantas paling hebat dan berkuasa serta mengangap rendah orang lain.

Apa salahnya ketika menjalankan razia kendaraan, polantas berlaku sopan dan ramah. Apakah dengan kesopanan dan keramahan tersebut akan mengurangi atau menghilangkan kewibawaanya sebagai polantas? Atau memang mereka diajarkan untuk bagaimana bersikap keras dan kaku seperti tentara dalam menjalankan tugasnya. Tanpa ba-bi-bu, langsung bertanya mana SIM dan STNK saudara? Dan kalaupun ternyata sang pengendara kebetulan tidak membawa STNK-nya, dengan senyum liciknya langsung memeras pengendara dengan menunjukkan surat bukti pelanggaran. Dan apabila sang pengendara mudah tertipu, maka transaksi penyuapan pun terjadi di tempat kejadian. Masih untung kalau pengendara mendapat senyum dari oknum tersebut, tapi lebih sering mendapat tampang bringas dan ganas.

Disadri atau tidak, masyarakat juga sering melakukan persekongkolan dengan polantas. Apabila menghadapi polantas mereka lebih sering menyuap sang polantas dengan uang tiga puluh ribu sampai lima puluh ribu rupiah. Padahal uang tersebut belum tentu sampai ke negara, dan mungkin hanya sampai di saku sang oknum polantas. Tindakan ini sama saja menyuburkan perilaku tidak jujur dan membudayakan suap. Akan lebih baik apabila kita memang salah, kemudian mengikuti persidangan atau alur yang sudah ada, bukan malah menyuap polantas dan mendapatkan kembali SIM atau STNK di tempat kejadian.

Kedepamnya Polantas seharusnya memahami tugas mereka sebagai polantas, dan menjaga harga dirinya sebagai pelayan masyarakat. Bukan malah menjual harga diri dan kejujurannya dengan uang senilai tiga puluh ribu rupiah. Kode etik yang selama ini yang seharusnya dipatuhi, jangan malah hanya sebagai slogan saja, tapi betul-betul dijalankan sepenuh hati. Dalam menjalankan tugas gunakanlah hati, jangan menganggap masyarakat sebagai musuh, tapi anggaplah mereka sebagai sahabat. Kalau mereka memang salah tak perlu dianggap rendah atau dikatakan tak tau aturan, mungkin pada saat itu mereka betul-betul lupa atau belum mengerti.

Kemuliaan sebagai polantas akan hilang apabila kejujuran telah diperjualbelikan. Berlaku jujur dan adil dengan memperlakukan semua masyarakat dengan sopan dan ramah akan lebih baik ketimbang bertampang bringas dan sangar. Semua orang pasti memberikan apresiasi apabila polantas menjalankan tugasnya dengan baik dan bertindak sesuai kode etik yang ada. Apabila semua ini masih belum mampu dijalankan oleh polantas, maka stigma negatif terhadap polantas akan terus berkembang dan akhirnya akan menimbulkan kebencian.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang Agustus 2010

Iklan

3 comments on “Mempertanyakan Etika Polantas

  1. Masih banyak 9knum polantas saat menjalankan tugasnya bersikap kaku dan arogan. Tuh, polantas polresta tasikmalaya, di polsekta ciawi, melakukan razia aja masih diskriminatif alias tebang pilih. Emang goblok tuh polantas….

    • masih banyak juga polantas tasik yang acuh/ga perduli dengan kendaraan umum yang ngetem di persimpangan jalan yg mengakibatkan kemacetan,,,,,lampu setopan nyala,polantas kumpul,tp dikala lampu setopan mati ga ada satu hidung pun polantas tasik yg nongkrong d tmpat tersebut,,,

  2. Pak Polisi tolong tertibkan knalpot2 motor yang bunyinya bising memekakan telinga yg sangat mengganggu waktu sholat(kebanyakan mesjid di pinggir jalan)dan tertibkan pula lampu motor depan yg warnanya diganti jd merah yg sangat mengganggu dan membingungkan pengendara lain…Tolong masalah ini SEGERA TUNTASKAN SECEPATNYA…..!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s