Mengenang Sosok Ulama Karismatik: Buya HAMKA

Oleh: Tomi Wardana

Siapa yang tak mengenal sosok ulama yang satu ini, seorang ulama karismatik asal ranah Minang. Ongku atau Buya Hamka itulah sapaan akrab baginya. Nama Hamka merupakan akronim dari nama asli beliau yaitu Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama karismatik, aktivis politik nan santun dan sekaligus penulis ternama yang amat terkenal dan telah mendunia.

Buya Hamka merupakan salah seorang putra terbaik yang pernah dimiliki ranah Minang ini, beliau dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatra Barat. Ayahnya bernama Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenal juga dengan Haji Rasul yang merupakan salah seorang pelopor gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Hamka kecil yang bernama Abdul Malik tumbuh di lingkungan agamis yang taat menegakkan sunnah Rasul. Selain ayahnya yang ulama, ibunya yang bernama Siti Safiyah Binti Gelanggar juga seorang yang terkenal dan bergelar Bagindo nan Batuah.

Buya Hamka selain gemar membaca juga rajin bertukar pikiran tentang permasalahan yang banyak dialami kaumnya pada masanya, baik bertemakan tentang keislaman maupun kebangsaan. Buya Hamka yang belajar secara otodidak senantiasa tidak pernah puas menggali ilmu di berbagai bidang seperti filsafat, sastra, sosiologi, hingga politik. Proses belajar otodidak ini sangat ditunjang kemampuannya dalam bahasa terutama bahasa Arab.

Buya Hamka merupakan seorang ulama karismatik yang pernah lahir di ranah ini. Seorang ulama yang begitu menginspirasi bagi banyak orang tak hanya pada masanya namun hingga saat ini. Pendidikan formal Buya Hamka hanyalah sekolah rendah tapi kedalaman ilmunya sungguh luar biasa. Karena kecerdasannya universitas al-Azhar Kairo pun menganugerahkannya gelar Doctor Honoris Causa pada tahun 1958. Dan pada tahun 1974 Universitas Kebangsaan Malaysia juga menganugerahkan gelar yang sama.

Hamka yang sempat belajar di surau, sebagaimana lazimnya anak-anak Minang pada waktu itu, juga pernah berguru dengan ulama-ulama besar seperti Syekh Ibrahim Musa, Syekh Ahmad Rasyid dan Sultan Mansur. Kelebihan bahasa Arab yang di miliki Buya Hamka membuat dirinya mampu melahap karya-karya berbahasa Arab yang di tulis Zaki Mubarak, Husain Haikal, Abbas Al-Aqqad. Selain itu karya-karya barat pun tak luput di bacanya, sehingga keluasan ilmu Buya Hamka tak di ragukan lagi.

Buya Hamka mulai menggeluti dunia politik pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau ikut aktif menentang invasi militer Belanda ke Indonesia baik melalui pidato-pidato maupun langsung melalui kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Buya Hamka dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional.

Pada tahun 1955 Buya Hamka menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi juru kampanye utama dalam Pemilihan Umum Raya. Karena desakan penguasa pada tahun 1960 partai Masyumi pun membubarkan diri. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia.

Terdapat peristiwa yang begitu mirip yang dialami Buya Hamka dengan peristiwa yang pernah di alami oleh Ibnu Taimiyah. Kita ketahui bersama bahwa Ibnu Taimiyah pernah di penjara oleh penguasa di zamannya.  Dari dinginnya bilik penjara inilah Ibnu Taimiyah kemudian menulis salah satu karyanya yang terbesar yaitu Majmu Fatawa. Demikian pula Buya Hamka, beliau sempat di penjara oleh penguasa dan dari tembok penjara yang pengap itulah  Tafsir Al-Azhar yang monumental  itu lahir. Sebuah tafsir yang sampai sekarang menjadi rujukan bagi banyak orang.

Setelah keluar dari penjara, Buya Hamka kemudian dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, dan anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia serta anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Sebagai seorang politisi, Buya Hamka patut menjadi teladan. Pandangan dan keyakinannya senantiasa lurus-lurus saja dalam memperjuangkan aspirasi ummat. Beliau bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya adalah para pejuang Islam yang gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Disamping itu beliau dan rekan-rekannya juga tetap memegang teguh aturan main dalam konstitusional.

Ketika perjuangan melalui jalur politik terganjal, Buya Hamka dan para tokoh politik Masyumi memilih hijrah dengan menempuh jalur dakwah di masyarakat, Mesjid, pesantren, dan perguruan tinggi. Karena memang sesungguhnya dakwah itu adalah ibarat air yang mengalir, tidak boleh berhenti dan tidak bisa dibendung.

Sebagai seorang penulis ternama, nama Buya Hamka tidak asing lagi dalam dunia sastra dan jurnalistik. Berjuang tidak selamanya dilakukan dengan mengangkat senjata. Perjuangan fisik harus juga disertai dengan perjuangan mengisi jiwa, menumbuhkan kesadaran, membakar semangat dan menguatkan ruh jihad. Apalah jadinya apabila tidak adalagi orang yang mau mengasah pena. Niscaya tidak akan adalagi tulisan, surat kabar, buku dan juga kitab yang bisa dibaca dari generasi ke generasi. Tidak adalagi sejarah yang bisa dipelajari kelak dikemudian hari setelah pelaku sejarahpun tiada.

Hamka muda sungguh menyadari pentingnya gerakan dakwah dengan perantaraan ‘kalam’. Karenanya beliau berketetapan hati untuk menjadi jurnalis yang profesional. Sejak tahun 1920-an Buya Hamka telah menjadi wartawan pada beberapa surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, dan Bintang Islam. Tahun 1927 sepulang dari tanah suci Makkah, Buya Hamka melanjutkan menulis di Majalah Seruan Islam di Tanjung Pura (Langkat), dan membantu Bintang Islam serta Suara Muhammadiyah di Yogyakarta.

Tahun 1930 beliau menulis di surat kabar Pembela Islam Bandung, dan berkenalan dengan M. Natsir dan A Hassan. Tahun 1936-1942 Buya Hamka memimpin majalah Pedoman Masyarakat. Tahun 1950-1953 Hamka memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama). Kemudian pada tahun 1956 Buya Hamka memimpin Majalah Panji Masyarakat.

Disamping dikenal sebagai seorang jurnalis, Buya Hamka tak diragukan lagi juga piawai dalam mengarang karya sastra seperti prosa, pantun hingga novel. Disela-sela padatnya aktivitas dakwah ternyata Buya Hamka sangat produktif dalam menulis. Sentuhan religius dari karya-karya Buya Hamka ternyata mampu memberi warna baru bagi dunia kesusastraan di Nusantara sehingga tidaklah mengherankan jika nama Buya Hamka dikenal sebagai sastrawan angkatan pujangga baru. Diantara karya sastra Buya Hamka yang dikenal hingga ke tanah seberang adalah Dibawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, dan Merantau ke Deli.

Buya Hamka pernah berkata: “Mengapa engkau tidak tatap langit yang biru dengan awan seputih kapas yang indah atau kau tatap bukit yang hijau dengan lereng indah. Gemercik air mengalir, indah. Atau engkau bangun pada malam hari engkau tatap langit dengan taburan bintang dan bulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau engkau dengar suara jangkrik dan katak bersahutan indah. Lalu kenapa hati yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan. Padahal jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. Kalau alam ini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah.”

Sesungguhnya kita rindu sosok-sosok yang senantiasa membuat semangat kita menggebu, hati kita hendak ingin bertemu insan-insan yang menginspirasi, jiwa kita mendamba hadirnya raga yang semangatnya selalu bergelora, yang tulisannya meneguhkan kaki-kaki kita berjalan, ucapannya bisa menjadi penyejuk kalbu, tingkah lakunya dapat menjadi tauladan. Dan sungguh itu semua pernah dicontohkan oleh seorang putra ranah Minang bernama Buya Hamka. Semoga kerinduan kita bisa segera terjawab dengan munculnya Hamka-Hamka baru dari ranah nan elok ini. (Dari berbagai sumber)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang Februari 2010

Iklan

2 comments on “Mengenang Sosok Ulama Karismatik: Buya HAMKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s