Rakyat Miskin (Tidak) Dilarang Kuliah

Oleh: Tomi Wardana

Banyak yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan primer. Pendidikan sangat penting dan tidak boleh dianggap sepele. Ada juga yang mengatakan pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif.

Dengan alasan itu juga pemerintah mulai serius menangani bidang pendidikan, katanya dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Katanya lagi pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama di masa depan dan apabila kita ingin menghindarkan diri sebagai salah satu negara terbelakang dan agar dapat turut berperan penting dalam percaturan dunia internasional.

Berbagai aturan dan regulasi benar adanya dibuat oleh pembuat kebijakan agar rakyat juga peduli dengan pendidikan. Atas dasar reformasi pendidikan sebagai respon terhadap perkembangan tuntutan global pemerintah sangat giat mensosialisasikan pentingnya pendidikan. Tapi sayangnya lagi-lagi semuanya hanya indah di peraturan saja. Dengan biaya pendidikan yang sangat mahal, kembali membuat rakyat menengah ke bawah berpikir ulang untuk memasukkan anaknya ke pendidikan tingkat lanjut, terkhusus perguruan tinggi.

Dengan uang masuk dengan rentang tiga juta hingga tiga puluh dua juta (untuk perguruan tinggi negri), membuat sejumlah anak bangsa yang kurang beruntung perekonomian orangtuanya terpaksa harus mengurut dada dan pasrah untuk tidak kuliah di perguruan tinggi negri, walaupun mereka sudah lulus seleksi nasional perguruan tinggi negeri. Ironis memang, meski dalam konstitusi Negara ini mengamanatkan dengan jelas dan gamblang bahwa pendidikan menjadi hak semua warga negara dan menjadi kewajibnan negara dalam menyelenggarakannya. Tapi masih banyak anak bangsa ini yang terkendala biaya untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.

Kepada siapa lagi mereka harus mengadu? Apabila pemerintah, DPR, atau Rektor sekalipun berlepas tangan dengan semua ini, maka jalan yang harus mereka tempuh adalah meminta belas kasihan orang lain. Hal ini terjadi tak lain dikarenakan peraturan yang dibuat oleh pembuat kebijakan terlalu jauh dengan kenyataan dan realita yang ada. Konstitusi dan peraturan berjalan tak sejalan dengan kenyataan yang ada. Biaya pendidikan tinggi yang sangat memberatkan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, rupanya hanya menjadi wacana untuk dicarikan solusinya.

Buktinya setiap awal ajaran baru di perguruan tinggi masih selalu ada saja orang tua yang terpaksa meminta belaskasihan orang lain, demi kelanjutan pendidikan sang buah hati. Ya, patut dipertanyakan bagaimana kinerja para pembuat kebijakan di negara ini? Entah solusi apa yang telah didapat oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab untuk mengatasi problematika ini?

Berbagai retorika dan justifikasi mungkin bisa disampaikan oleh pemerintah atau dalam hal ini lembaga legislatif dengan menganggarkan biaya pendidikan yang katanya dua puluh persen itu. Tapi apakah anggaran tersebut benar-benar mengena kepada yang membutuhkan? Adakah evaluasi bagaimana pendayagunaan dan pemanfaatan anggaran pendidikan tersebut? Sudah tepat sasarankah atau bagaimana? Entahlah, tentu hanya mereka yang lebih mengetahui.

Mungkin akan muncul juga retorika lain tentang beasiswa dan pembebasan biaya studi. Lagi-lagi itu hanya retorika para birokrat, baik birokrat kampus maupun birokrat pemerintahan, semuanya bermanis mulut untuk itu. Ya sudahlah, mungkin sudah terlalu capek rakyat ini berteriak, namun pihak-pihak yang bertanggungjawab hanya berlepas tangan juga.

Kalau masih saja seperti ini, entah kapan reformasi pendidikan di negeri ini bisa memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan. Pendidikan yang diagung-agungkan itu ternyata masih terlalu mahal bagi mereka yang kurang beruntung. Tinggallah mereka menanti belas kasihan para dermawan untuk menolong sang buah hati.

Kita boleh bermimpi kalau suatu saat pendidikan tinggi di negeri ini bisa dinikmati tidak hanya oleh golongan the have saja, tapi juga bisa dinikmati oleh rakyat miskin di negara ini. Dimana semua fasilitas pendidikan seperti fasilitas labor dan pustaka yang lengkap, dapat disediakan oleh negara ini dan itu semua tanpa harus membayar lagi. Semoga mimpi ini bisa diwujudkan oleh para pembuat kebijakan yang masih memiliki hati nurani dan betul-betul peduli terhadap rakyat miskin. Semoga ini tidak hanya sekedar mimpi, tapi hendaknya bisa menjadi kenyataan di hari esok. Semoga!

Tulisan ini pernah di publikasikan di Harian Singgalang Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s