Mengenang Sosok Mohammad Yamin

Oleh: Tomi Wardana

Sebagai gudangnya pemimpin Nasional, Minangkabau telah melahirkan sejumlah tokoh nasional yang jasanya tak mungkin dilupakan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh Minang yang telah memberikan sumbangsih pemikirannya yang sangat berharga untuk bangsa Indonesia adalah Muhammad Yamin. Pahlawan asal ranah Minang ini lahir di Talawi (Sawahlunto) pada tanggal 23 Agustus 1903.

Melihat popularitas sosok Mohammad Yamin memang sering tenggelam apabila dibandingkan dengan Bung Karno, Bung Hatta, atau bapak-bapak bangsa Indonesia lainnya. Catatan-catatan sejarahnya pun hanya terselip di lipatan tebal buku sejarah yang teramat jarang dibuka oleh rakyat Indonesia. Boleh jadi kalah populernya nama M. Yamin dibandingkan nama tokoh-tokoh lain, menggambarkan sifat beliau yang tak suka menonjolkan diri dan lebih suka berkiprah sebagai tokoh di balik layar pergerakan kemerdekaan Indonesia.

M. Yamin melewati pendidikannya di tempat yang berbeda-beda dan juga disiplin ilmu yang berlainan satu sama lainnya. Setelah menamatkan HIS di Padangpanjang, Yamin masuk sekolah dokter hewan di Bogor, kemudian menyeberang ke AMS di Yogyakarta, dan sampai akhirnya mendapatkan gelar meester in de rechten atau sarjana hukum di Recht Hogeschool, Jakarta.

Karena kehausannya pada beragam bidang ilmu, Yamin tak hanya menguasai satu bidang ilmu saja. Selain ahli hukum tata negara, anak dari Oesman Bagindo Khatib ini juga dikenal sebagai pujangga. Sajak-sajaknya terkumpul dalam Tanah Air (1922) dan Indonesia Tumpah Darahku (1928). Yamin juga menulis sejumlah naskah drama dari tahun 1932 sampai 1951. Bahkan beliau dikategorikan sebagai penyair angkatan pujangga baru.

Tak cukup di situ, penyuka antropologi, penggali bahasa Sanskerta, Jawa, dan Melayu ini juga menguasai sejarah. Penelitian sejarahnya tentang Gajah Mada, Diponegoro, Tan Malaka sampai kepada Revolusi Amerika juga pernah diterbitkan dalam bentuk buku.

Yamin memulai karier politiknya ketika menjadi Ketua Jong Sumatranen Bond. Pada kongres pemuda pertama tahun 1926, Yamin mencetuskan tentang pentingnya penggunaan bahasa kesatuan, yang ia prediksikan bakal berkembang dari bahasa Melayu. Beliau juga termasuk salah satu tokoh muda yang mempelopori Kongres Pemuda II tahun 1928, yang kemudian melahirkan Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Yamin juga ditunjuk untuk merumuskan teks Sumpah Pemuda yang salah satunya merumuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pada masa Indonesia merdeka, kegiatan politiknya pernah diliputi konflik. Pada awal tahun 1946 ia bergabung dengan PP (Persatuan Perjuangan) pimpinan Tan Malaka, sebuah organisasi yang menentang politik diplomasi Kabinet Sjahrir dengan pemerintah Belanda. Selain itu, juga menuntut pengakuan 100% Belanda atas kemerdekaan Indonesia.

Yamin sempat dinyatakan terlibat dalam usaha merebut kekuasaan yang dikenal dengan nama ‘Peristiwa 3 Juli 1946′ dan tokoh yang terlibat dijatuhi hukuman penjara selama empat tahun. Pada 17 Agustus 1948, kemudian Presiden Soekarno memberikan grasi kepada para tahanan politik yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Hanya selang setahun kemudian, Yamin dipercaya menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

Meski berbagai peristiwa beliau lewati, Yamin tak tercerabut dari kepakarannya dalam bidang hukum. Ia adalah salah satu perumus dasar negara selain Soekarno dan Soepomo. Bersama Bung Hatta, Yamin juga menjadi konseptor pasal-pasal yang memuat hak asasi manusia dalam UUD 1945 pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Walau berkiprah di tingkat nasional, Yamin tak melupakan ranah Minang sebagai tempat kelahirannya. Ketika menjadi Menteri Pengajaran, Yamin mencetuskan pentingnya didirikan perguruan tinggi di luar pulau jawa. Dan sebagai buah pikirnya itu maka lahirlah Universitas Andalas, yang merupakan perguruan tinggi tertua di luar pulau Jawa. Ia juga sempat menjadi dosen terbang di Universitas Andalas, Padang.

Hampir sepanjang usianya, beliau habiskan untuk mengabdikan dirinya demi meletakkan dasar pondasi yang kukuh bagi bangsa Indonesia. Pada hari Rabu, 17 Oktober 1962, Muhammad Yamin meninggal di RSPAD Jakarta. Pengabdian seumur hidup, tak salah jika julukan itu dipersembahkan baginya.

Walau telah mendapatkan berbagai bintang penghargaan, seperti Bintang Mahaputra RI, Tanda Penghargaan Tertinggi dari Presiden RI atas jasa-jasanya pada Nusa dan Bangsa, Tanda penghargaan dari Corps Polisi Militer sebagai Pencipta Lambang Gajah Mada dan Panca Darma Corps, serta Tanda Penghargaan Panglima Kostrad atas jasanya menciptakan Petaka Komando Strategi Angkatan Darat, namun jelas bukan itu tujuan beliau untuk terus berjuang sampai akhir hayat.

Semoga dalam suasana kemerdekaan RI yang ke enam puluh lima ini, kita dapat belajar dari semangat M. Yamin untuk mengabdi pada bangsa Indonesia demi mewujudkan Indonesia yang adil dan sejahtera. Jangan sampai kita sebagai rakyat Indonesia hanya terhanyut dengan berbagai kegiatan seremonial belaka, tanpa berbuat apa-apa untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dengan berbagai pengorbanan yang telah mereka lakukan. Kontribusi nyata jauh lebih berarti ketimbang terbuai dengan berbagai event-event seremonial.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Singgalang Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s