Bangga Berbahasa Indonesia

Oleh Tomi Wardana

Masihkah kita bangga dengan bangsa Indonesia? Dan masihkah kita bangga menggunakan bahasa Indonesia? Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah sebuah pertanyaan yang tidak penting dan berarti. Karena mungkin mereka tidak pernah berpikir betapa besar perjuangan para pejuang kita memeperoleh kemerdekaan dan menjaga keutuhan bangsa ini. Indonesia adalah sebuah negara yang didirikan di atas darah para pejuang, bukan pemberian ataupun hadiah dari bangsa lain.

Ketika para pendahulu negeri ini menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, pasti sudah melalui banyak pertimbangan. Apalagi pada situasi seperti saat itu, nilai-nilai primordialisme berbasis kesukuan dan kedaerahan dinilai masih sangat kuat. Sungguh, bukan hal yang mudah untuk bisa mengakomodasi aspirasi semua pihak ke dalam sebuah identitas keindonesiaan yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai wacana baru. Sebagai suatu bangsa, kita telah memiliki pertautan jati diri dengan menetapkan bahasa melayu yang kemudian dikenal dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tentu harapannya bahasa persatuan tersebut mampu menjadi perekat persaudaraan antaretnis seantaro nusantara.

Namun agaknya saat ini kebanggan rakyat Indonesia terhadap bangsanya sendiri mulai tergores seiring dahsyatnya arus globalisasi. Bahasa Indonesia yang telah lama menjadi bahasa persatuan bangsa ini,  kinipun telah mulai tergantikan oleh bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Kita justru merasa amat bangga dan terhormat jika menggunakan setumpuk istilah asing ketika bertindak tutur dalam kehidupan sehari-hari sementara. Sebagai bukti kita lihat saja siaran televisi yang notabene sebagai hiburan bagi bangsa ini banyak menayangkan program dengan menyisipkan Bahasa Inggris dalam percakapan bahasa Indonesia, padahal hal tersebut dapat merusak tatanan makna bahasa kita sendiri. Belum lagi para artis yang tampil dengan sok ke barat-baratan.

Sebagai contoh lain tengoklah salah satu perguruan tinggi di kota Padang yang juga merupakan perguruan tinggi tertua di luar pulau Jawa. Perguruan tinggi tersebut lebih memilih menggunakan aneka slogannya dengan bahasa Inggris. Untuk menyambut dan mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa barunya saja, universitas tersebut membuat spanduk besar yang  bertuliskan “welcome new students…”. Kampus yang merupakan lingkungan intelektual saja lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia, apatah lagi masyarakat kebanyakan.  Ini membuktikan bahwa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia telah mulau pudar di tengah-tengah masyarakat.

Boleh jadi sekian tahun ke depan bangsa ini akan kehilangan sebuah identitas. Mungkin bukan hanya itu, bisa saja anak-cucu bangsa kita bahkan tidak akan pernah mengenal dari mana mereka berasal. Walau kita sudah sering mendengar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, tetapi selalu dianggap remeh oleh bangsa lain. Semua ini tak lain adalah akibat dari perbuatan kita yang cuek dengan kondisi bangsa ini. Apakah warisan para pendahulu kita yang kita sebut dengan Bahasa Indonesia juga akan ikut turut hilang? Kemana bahasa kita ini akan kita bawa?

Penulis secara pribadi bukannya menolak Bahasa Inggris, toh penulis sendiri adalah mahasiswa sastra Inggris. Penulis ingin mengingatkan bahwa kita perlu  mencintai bahasa kita sendiri. Boleh saja kita mempelajari bahasa asing, tapi jangan sampai bahasa kita menjadi bahasa kedua dalam negeri kita sendiri. Boleh juga kita menggunakan bahasa asing dalam spanduk. Misalnya kita buat spanduk dua bahasa, atau kalau bisa lima bahasa juga tidak mengapa. Tapi tetaplah gunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utamanya. Jepang saja bisa eksis dan bertahan dengan bahasanya sendiri, China pun bersikap demikian, toh mereka juga diperhitungkan di dunia, lalu kenapa kita tidak bisa?

Bukan suatu hal yang tidak mungkin apabila kita menyebarkan Bahasa Indonesia keseluruh dunia agar bisa di akui sebagai bahasa Internasional, toh kita adalah bangsa yang besar di kawasan Asia. Bangsa lain saja di negara-negara maju telah mulai mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Lalu kenapa kita malah meninggalkannya? Suatu kesempatan penulis pernah menonton berita tentang proses pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia, dari berita tersebut siswa di sana menjadikan Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran pilihan yang favorit bahkan beberapa dari mereka sangat senang belajar bahasa Indonesia.

Hendaknya pemerintah  dan jajarannya juga memperhatikan fenomena mulai pudarnya kebanggaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia ini. Perlu ada upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia. Ketika usia kemerdekaan kita terus bertambah, perlu juga  kita ingat kembali “khittah” perjuangan pendahulu negeri yang dengan amat sadar menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dirgahayu Indonesia! Jayalah bangsaku!

Tulisan ini pernah dipublikasikan di harian Singgalang September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s