Berpikir Kritis Melalui Sastra

Oleh: Tomi Wardana

Bagi sebagian orang dan bahkan kebanyakan masyarakat Indonesia selalu menganggap remeh sastra. Mereka mungkin berpikir sastra hanya sebagai bahan bacaan penghibur untuk mengisi waktu luang, dan tak lebih dari sekedar itu. Maka tak mengherankan apabila pembelajaran sastra di Indonesia selalu di nomor dua kan dibanding bidang ilmu lain. Karena anggapan yang beredar di tengah masyarakat bahwa dengan sastra masa depan tak terjamin.

Tak dapat di pungkiri sastra memang bukanlah sesuatu yang dapat menjamin masa depan seseorang bisa serta merta menjadi cerah dengan mempelajarinya. Berbeda mungkin dengan bidang ilmu lain seperti kedokteran, hukum, ekonomi, matematika, atau yang lainnya. Dengan bidang ilmu tersebut, mungkin ada ribuan dan bahkan jutaan lowongan pekerjaan yang menanti tamatannya. Tetapi meski demikian, sastra tetap memiliki pesona tersendiri untuk didalami bagi seseorang pecinta dan penikmat sastra.

Sastra merupakan sebuah ilmu yang indah, di mana ia memperhatikan apa yang tidak menjadi perhatian masyarakat banyak. Jika fotografi merekam sebuah sejarah dalam bentuk gambar, maka sastra akan merekam sejarah itu dalam bentuk tulisan dan cerita. Dengan sastra seseorang bisa lebih kritis. Hal ini pernah disampaikan oleh salah seorang Dosen Universitas Singapura, Dr Azhar Ibrahim Alwee. Ia mengatakan bahwa pembelajaran sastra sangat penting dalam pembangunan karena akan mendorong masyarakat bisa bersikap lebih kritis.

Hal senada juga pernah disampaikan AA Navis. Menurutnya pelajaran sastra adalah pelajaran orang yang berpikir kritis. Dengan karya sastra seseorang diajarkan untuk berpikir kritis dan memahami konsep-konsep kehidupan. Apabila kita membaca karya yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir dan berbuat betul.

Dalam karya-karya sastra konsepnya adalah yang jahat lawan yang buruk. Namun bisa saja terjadi yang jahat itu yang dimenangkan. Hal ini bukan berarti sastra memuja sesuatu yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan tentang hal-hal kemunafikan. Dan sastra tersebut diajarkan kepada anak-anak. Hal yang dapat mereka petik kemudian adalah bahwa kemunafikan itu sesungguhnya berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dengan itulah kemudia anak-anak tersebut bisa berpikir dengan tajam. Namun hal itulah yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang, hingga pemerintahpun tampaknya ogah-ogahan mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik.

Pembelajaran sastra akan membawa seseorang pada kesadaran sosial yang kritis. apabila kesadaran sosial yang kritis ini sudah berkembang di tengah masyarakat  maka pembangunan pun akan bisa menjadi lebih terarah dan terkontrol. Makna yang terkandung dalam karya sastra dapat mengarahkan kepada pemberdayaan manusia, yang bukan saja membuat orang menjadi tegas, tetapi juga mampu untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

Ada nilai ketegasan dan bebas dari ketergantungan yang diajarkan dalam sastra. Dan inilah sesungguhnya nilai yang menjadi identitas bagi seorang manusia. Sastra merupakan dokumen kebudayaan. Sastra bisa menjadi pemberdayaan identitas budaya lokal yang ampuh. Namun saat ini pembelajaran sastra perlu nafas baru, sehingga perlu melakukan pendekatan baru dalam pengajaran.

Sastra mengandung nilai-nilai luhur yang menggerakkan segala unsur yang ada dalam hidup. Kita sadari atau tidak sebenarnya kehidupan kita sehari-hari sudah tidak dapat lagi dipisahkan dari kesusastraan. Hanya saja kesemua itu dilakukan tanpa sadar di dalam ruang kekinian yang didominasi oleh materialisme dan konsumerisme. Misalnya adalah penggunaan bahasa kiasan, ritual berpantun, slogan dalam iklan, atau bisa juga dalam medium verbal seperti ceramah atau pidato. Dengan susunan kalimat yang indahlah sebuah pidato akan mendapat perhatian dari para hadirin, apabila tidak maka pidato itu tidak akan menjadi perhatian para hadirin.

Rasanya bukan sebuah hal yang berlebihan jika ada seruan agar kita perlu meciptakan ruang sadar sastra. Pada akhirnya hal tersebut bertujuan untuk membuka pikiran kita bahwa ada sebuah realitas yang dapat dilihat dari sudut pandang lain, bukan hanya sebuah realitas yang didikte oleh sekelompok dominan atau berkuasa untuk menguasai opini publik. Ruang sadar sastra itu hanya akan dapat terwujud dengan cara mengapresiasi karya-karya sastra oleh setiap kalangan.

Mengapresiasi dalam konteks ini tidak semata-mata bertujuan untuk menarik semua individu untuk kemudian terjun ke dalam dunia sastra itu sendiri, seperti menjadi penulis puisi, cerpen, drama ataupun kritikus sastra yang menguasai sekelumit teori sastra. Akan tetapi apresiasi melalui ruang sadar sastra ini bertujuan untuk membangun pemikiran yang kritis (critical thinking) terhadap suatu hal. Sehingga setiap individu mampu dengan jeli melihat sesuatu permasalahan dari berbagai perspektif yang jauh dari kesan dangkal.

Tulisan ini pernah dimuat di harian singgalang Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s