Pudarnya Budaya Malu

Oleh: Tomi Wardana

Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang religius dan memegang teguh ajaran Islam. Dalam Islam sendiri ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa malu sebagian dari iman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa keimanan memiliki korelasi yang kuat dengan rasa malu. Namun bagaimanakah jika rasa malu mulai pudar ditengah masyarakat? Apakah ini juga mengindikasikan mulai redupnya keimanan ditengah masyarakat tersebut? Hal itulah agaknya yang tengah terjadi saat ini ditengah-tengah masyarakat Minangkabau.
Malu seharusnya tertancap kuat didalam diri seorang muslim. Karena dengan rasa malu inilah seseorang bisa menahan diri untuk terlepas dari melakukan perbuatan dosa. Saat ini rasa malu inilah yang mulai pudar dari masyarakat Minang. Rasa malu itu kini tidak lagi muncul ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan atau dosa. Ketika mencuri, mengemis dan melakukan perbuatan maksiat tidak ada lagi rasa malu untuk melakukannya. Maka akibatnya merebaklah berbagai penyakit masyarakat di daerah ini.
Dalam Islam diajarkan bahwa mengambil sesuatu yang bukan hak milik tanpa sepengetahuan sang pemilik atau mencuri merupakan perbuatan dosa. Namun sekarang pencurian telah merajalela dimana-mana bahkan dengan modus yang lebih canggih yang terkadang merenggut korban jiwa. Demikian juga halnya dengan korupsi, pejabat negara tanpa rasa malu mengambil uang rakyat yang bukan haknya dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.
Negeri ini semakin terperosok saja, angka pengangguran menanjak, pengemis ada dimana-mana, tindak kriminal meningkat setiap tahunnya, belum lagi tindakan para koruptor yang mencuri uang rakyat. Uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat malah diambil untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Hukum dinegeri ini seolah hanya berlaku untuk rakyat jelata saja. Yang karena kekurangan makan lalu ia mencuri, lalu ditangkap dan dipenjarakan. Sementara para koruptor yang menjarah uang rakyat bermiliar-miliar dan telah nyata menyengsarakan rakyat malah dibiarkan hidup bermewah-mewah. Kalaupun mereka dipenjara terkesan bukan dihukum tapi hanya sekedar pindah tidur ke penjara saja. Pudarnya rasa malu memang menyebabkan orang sudah tidak lagi peduli dengan kepentingan orang lain.
Perbuatan lain yang seharusnya seorang muslim malu untuk melakukannya adalah meminta-minta. Manusia memang diperintahkan Allah agar saling tolong menolong, saling melengkapi satu dengan yang lain. Karena muslim itu ibarat satu tubuh, apabila satu bagian sakit, maka bagian lain juga akan merasakan sakit. Maka menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk membantu muslim yang lainnya.
Namun saat ini, meminta-minta telah menjadi profesi untuk mencari nafkah. Sering kita temukan orang yang duduk dipersimpangan jalan mengulurkan tangan sambil memohon belas kasihan. Ada juga yang memanfaatkan anak kecil untuk meluluhkan hati orang lain agar memberinya uang. Padahal harusnya anak-anak itu berada dirumah bermain bersama teman-teman sebayanya atau berada disekolah menimba ilmu demi masa depannya. Tapi ia harus rela dikorbankan untuk menemani ibunya menjadi peminta-minta dipinggir jalan. Sepertinya sejak dini perlu ditanamkan dalam diri anak-anak bangsa ini bahwa meminta-minta itu tindakan memalukan dan bukan budaya kita. Butuh penyadaran bagaimana agar kita bisa berdiri diatas kaki sendiri
Contoh perbuatan lain yang saat ini tidak lagi ada rasa malu dilakukan oleh muslim adalah maksiat. Entah itu namanya pacaran ataupun selingkuh sudah marak ditengah masyarakat kita. Semuanya dibungkus atas nama kemajuan zaman dan kebebasan. Dengan alasan perkembangan zaman dan supaya tidak dianggap kuno, pacaran pun dihalalkan. Memiliki jalin hubungan asmara tanpa adanya ijab qabul dianggap hal yang biasa dan normal.
Belum lagi persoalan pakaian yang mengumbar aurat. Dengan dalih seni, orang sudah tidak lagi malu menampakkan auratnya didepan umum. Entah dengan alasan apa pula, pakaian yang harusnya dikenanakan oleh anak-anak atau seorang remaja kemudian dikenakan oleh orang dewasa. Alhasil ketika pakaian tersebut dikenakan maka pakaian tersebut menjadi kekecilan, kependekan namun tetap juga dipaksakan untuk dipakai ditempat umum.
Tak heran apabila kemudian perkosaan dan perselingkuhan terjadi dimana-mana. Bahkan hampir tiap hari media massa selalu memberitakan adanya perkosaan baik pada orang dewasa maupun anak dibawah umur. Jika sudah demikian siapakah yang harus bertanggungjawab? Apakah kita katakan bahwa si pelaku pemerkosalah yang salah seorang diri? Kalau kita mau berpikir lebih jauh, maka semua kita yang hidup dinegeri ini harus bertanggungjawab. Karena pudarnya rasa malu itu telah mengundang merbaknya penyakit masyarakat di ranah ini. Seandainya semua kita berpakaian sopan, tidak tampil vulgar yang menimbulkan hawa nafsu, tidak mengupload foto maupun video porno dan lain sebagainya maka pasti angka kekerasan seksualpun akan menurun dengan sendirinya.
Satu-satunya cara untuk memulihkan dan memelihara kembali budaya malu agar tidak lagi terjadi perampokan, korupsi, porno aksi dan berbagai tindakan tidak bermoral lainnya adalah kembali kepada Islam. Selama ini agama sering dijadikan sebagai topeng untuk menutupi kebobrokan. Islam dirusak oleh umatnya sendiri, tanpa mereka sadari banyak perbuatan umat muslim menjadi penyebab orang lain beranggapan Islam itu tidak baik.
Padahal hanya dengan kembali pada Islam itulah orang akan mampu menumbuhklan rasa malu, merasa takut untuk berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dalam masyarakat. Semoga kemerosotan moral di negeri ini tak lagi berlarut-larut, agar kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan dan bukan hanya sekedar slogan untuk diucapkan. Mari kita budayakan malu, malu untuk mengambil sesuatu yang bukan hak milik kita, malu untuk meminta-minta, dan malu untuk berbuat maksiat.

Tulisan ini pernah dimuat di harian Singgalang Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s