Nasyid: Antara Syair dan Syiar

nsOleh Tomi Wardana

 

Nasyid merupakan salah satu jenis seni islami yang berbentuk syair-syair pujian, perjuangan, nasihat ataupun ingatan yang dibawakan dengan senandung. Nasyid telah berkembang sejak lama. Dahulu nasyid berupa shalawat dan syair-syair. Salah satu yang terkenal adalah shalawat Badar yang dibawakan oleh penduduk Madinah ketika menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.

Pada awalnya nasyid hanya dibawakan dengan musik yang sederhana sekali, bahkan ada yang tanpa musik sama sekali. Namun kini, nasyid telah dikembangkan sebagai media dakwah yang diharapkan dapat diterima oleh masyarakat umum. Bahkan sekarang ini telah dikenal jenis nasyid yang banyak berkembang memadukan beragam alat musik dengan syair-syair yang dikenal dengan sebutan Nasyid Kontemporer.

Ketika budaya pop mewabah dengan dahsyatnya, nasyid pun kini mulai tergusur. Padahal seyogyanya nasyid mampu menjadi pelita, inspirasi, dan kekuatan. Hari ini nasyid telah berangsur kehilangan pesonanya. Tertatih untuk tetap bisa berjalan. Meski sempat mencuat beberapa lama, secara perlahan unjuk gigi ke tengah masyarakat, dan masyarakat pun membuka tangan lebar menempatkan nasyid dalam salah satu bilik hatinya. Namun kini ia tak terlalu kuat memperkokoh eksistensinya. Kalau tidak segera disiasati, nasyid dengan syair-syair islaminya pun akan segera ditinggalkan.

Kita sadari atau tidak banyak lagu pop sekarang yang hanya sekedar bercerita tentang picisan romantika cinta yang melemahkan jiwa.  Dampaknya bisa membuat seseorang yang semulanya sensitif terhadap kemungkaran lalu kemudian menjadi begitu melankolik tersihir syair-syair khayali itu. Dan lebih miris lagi ketika anak-anak, adik-adik kita, yang masih di bawah umur itu dengan fasihnya mendendangkan lagu semacam kangen, ungu, peterpan, d’massive. Inilah permasalahannya. Budaya pop benar-benar tengah merasuki hati masyarakat. Dan rakyat pun dibodoh-bodohi dengan syair picisan yang konon dilantunkan berbagai usia. Suasana semakin mengharu biru, saat nasyid, budaya baru yang sarat nilai, nasehat, dan mencerahkan itu mulai ditinggalkan.

Sejenak kita menengok sejarah, ternyata syair telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah jihad Nabi Saw dan para sahabat. Syair menjadi hiburan para pejuang yang tengah berjihad di jalan Allah, sekaligus penyemangat atau motivator. Sejarah mencatat, dalam banyak peperangan antara umat Islam dan pasukan kafir, syair-syair pembangkit semangat juang (jihad) berkembang di kalangan sahabat. Ia menjadi “senandung para mujahid” di medan pertempuran.

Saat umat Islam menggali parit menjelang Perang Khandaq (Perang Ahzab), Rasulullah Saw mengangkat seorang sahabat ahli syair, Hasan bin Tsabit, yang bertugas khusus mengobarkan semangat kaum Muslimin di medan pertempuran dengan syair-syairnya yang energik. Syair (nasyid) di kalangan sahabat dijadikan sebagai pendorong dan pengobar semangat juang mereka, sekaligus penghibur hati, agar tetap ceria dan tegar di tengah ancaman musuh. Kemunculan syair-syair di kalangan sahabat tersebut, dilestarikan kaum Muslim hingga kini, dengan niat awal yang sama: hiburan sekaligus motivator berjuang di jalan Allah Swt. Berkembanglah apa yang kini dikenal dengan nama nasyid.

Di Indonesia sendiri nasyid mulai menggeliat pada tahun 80an. Seiring dengan arus kebangkitan Islam, nasyid yang semulanya asing dan diidentikkan untuk komunitas tertentu saja akhirnya menjadi familiar di tengah masyarakat. Tidak hanya di acara-acara walimahan atau pernikahan ia diperdengarkan, namun nasyid juga sempat tampil di layar kaca. Tercatat beberapa band semacam ungu, gigi, dsb. memberikan porsi khusus bagi lagu religi meski sebenarnya bertujuan pragmatis belaka.

Namun seiring berjalannya waktu, eksistensi nasyid yang belum begitu menghujam kuat dalam hati masyarakat kini mulai tergeser. Para penggiat seni nasyid seharusnya mengerti kondisi ini dan berupaya untuk bisa bertahan dengan terobosan-terobosan kreatif guna menghadang arus. Industri musik nasyid yang mulai lesu mesti disiasati dengan pemetaan bakat sebagai upaya regenerasi. Tentu saja upaya memikat pasar juga mesti diperhatikan.

Untuk menguasai pasar perlu dijawab apa yang masyarakat inginkan? Dan bagaimana supaya bisa mengubah selera musik masyarakat dari budaya pop ke budaya nasid. Tentunya butuh upaya untuk memasyarakatkan nasyid kembali. Dahulu nasyid lahir di kampus-kampus, kemudian masuk ke TV, hingga mampir ke rumah. Dari rumah, masyarakat akhirnya berselera terhadap nasyid.

Tidak ada salahnya apabila meniru siklus pemasyarakatan nasyid yang seperti itu. Bagaimana supaya nasyid kembali dihidupkan di kampus-kampus dan kembali dikampanyekan seiring  berjalannya dinamika dakwah kampus. Hingga nanti sampailah  nasyid itu ke rumah-rumah. Dan mengubah minat masyarakat dari budaya pop dan mengalihkan selera baru kepada nasyid.

Jangan sampai nasyid tumbang dihempas arus zaman. Para munsyid harus berupaya untuk terus bertahan. Mendendangkan syair-syair kehidupan yang mencerahkan, memberikan kedamaian, semangat dan berisi pesan-pesan kebenaran. Karena nasyid kita adalah pelita. Karena nasyid kita adalah setetes air di gurun sahara. Terus jadikan ia budaya. Kalau kemarin ia sempat dikenal, tak terlalu susah rasanya untuk memasyarakatkannya kembali. Kembali kita mulai mengkampanyekan nasyid dari diri sendiri saat ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Ketika masa populernya, nasyid bak cendawan di musim hujan. Namun di masa-masa sulitnya, nasyid harus terus bercahaya dan memberikan cahayanya di sudut-sudut relung hati kita. Jadikan ia penawar racun dunia. Perbanyak syairnya dengan nasihat-nasihat. karena sejatinya nasyid adalah senandung motivator jihad dan amal saleh lainnya, serta puja-puji kepada Allah dan Rasul-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s