Karena Islam Bukan Sekadar Partai (Tanggapan atas Tulisan Jeffrie Geovanie)

Partai-partai-Islam-atau-berbasis-Massa-IslamOleh : Tomi Wardana

Sangat menarik apa yang disampaikan oleh Jeffrie Geovani dalam tulisannya “Senjakala Partai Islam” dimuat harian Haluan hari Kamis (1/11) lalu, sehingga membuat saya tergoda untuk menanggapinya. Panjang lebar Jefffrie Geovani memberikan alasan yang pada ujungnya menyimpulkan bahwa partai Islam tidak akan bersinar pada pemilu 2014 karena selama ini partai Islam hanya menggunakan Islam sebagai alat untuk memperoleh kekua­saan saja. Hal ini tersirat jelas dalam kalimat Jeffri “maka jika pada pemilu 2014 mendatang partai-partai Is­lam diprediksi suaranya akan turun drastis, barangkali publik sudah paham karena partai-partai agama itu tak lebih institusi politik yang menggunakan simbol-simbol agama sebagai alat kampanye politik”.

Sebelum menyimpulkan demikian, Jeffri menguatkan opininya dengan menyam­paikan hasil survei dari lem­baga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ten­tang latar belakang pemilih Jakowi Ahok. Dimana seba­gian besar dari pemilih Jakowi Ahok adalah dari umat mus­lim atau berasal dari ormas Islam. Jeffri menjadikan hasil pilkada DKI jakarta sebagai titik tolak dan seolah men­jadikan hal tersebut sebagai lampu kuning bagi partai Islam bahwa agama tidak lagi bisa menjadi patokan bagi pemilih untuk memilih pemim­pin ataupun partai politik.

Sebelumnya, saya menya­yangkan ulasan Jeffrie yang membahas tentang partai Islam namun tidak menje­laskan pembatasan yang jelas tentang partai Islam. Tidak ada pembatasan yang jelas partai mana yang bisa dika­tegorikan partai Islam dan partai mana yang tidak. Boleh jadi belum adanya defenisi yang jelas dan tegas apa yang dimaksud dengan partai Islam itu sendiri membuat Jeffri enggan membatasi mana yang dimaksudnya dengan partai Islam. Apakah yang landasan partainya berdasarkan Islam atau pemilihnya yang berasal dari Ormas Islam. PKB dan PAN misalnya, dalam AD/ART nya tidak disebutkan berlan­daskan Islam, dan kemudian apakah kedua partai tersebut termasuk dalam kategori partai Islam.

Pendapat Jeffri terkait dengan kepesimisannya ten­tang masa depan partai Islam tentu tidak mengejutkan karena kita tau bersama bahwa Jeffri sendiri meru­pakan kader partai nasionalis bukan kader partai Islam. Opini yang mengatakan bahwa Islam yes dan partai Islam No, memang masih menjadi perdebatan panjang hingga saat ini. Banyak kalangan mengatakan bahwa pendapat yang dulunya dipopulerkan oleh tokoh liberal Indonesia cak nur itu kian hari kian terbukti. Bila kita membaca sejarah politik Indonesia, belum pernah partai Islam meraih suara nasional mele­bihi 50 persen, walaupun umat muslim di Indonesia lebih dari 85 persen. Artinya sebagian besar umat Islam lebih mempercayakan suara­nya kepada partai nasionalis. Tapi bila kita cermati lebih jauh, apakah sejarah panjang partai Islam yang pernah berjaya pada pemilu 1955 dengan perolehan suara seba­nyak 43 persen akan mene­mui kiamatnya pada pemilu 2014 nanti?

Melihat berbagai fakta, saya sendiri tidak bisa secepat Jeffri mengambil kesimpulan bahwa partai Islam akan mengalami penurunan pero­lehan suara secara drastis. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, pertama kecerobohan berbagai kala­ngan yang mengambil titik tolak pemilukada DKI Jakarta sebagai landasan. Saya ber­pan­dangan hasil pemilukada DKI jakarta tidak bisa serta merta menjadi dasar untuk men-generalisir bagaimana karakter pemilih di nusantara. Memang DKI adalah mini­aturnya Indonesia, segala etnis dan agama terwakili di sana. Mulai dari yang paling fun­damentalis sampai yang paling sekuler atau jika boleh menggunakan istilah lain mulai dari ekstrim kanan sampai ke ekstrim kiri ada di Jakarta. Tapi untuk kemu­dian mengeneralisir bahwa apa yang terjadi di Jakarta kemudian secara otomatis akan terjadi pula di seluruh Indonesia tidak bisa demikian.

Sebagai contoh kongkrit, pada pemilu legislatif 2004 yang lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pernah men­jadi jawara di DKI Jakarta. Namun apakah kemudian PKS menjadi partai pemenang secara nasional? Tidak. Namun yang menjadi pemenang pe­milu 2004 secara nasional saat itu adalah partai Golkar. Lalu kini apakah dengan kemenangan Jakowi dan Ahok saat ini di DKI kemudian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ini adalah pertanda kiamat bagi partai Islam? Jawabannya terlalu dini dan sangat prematur.

Kedua, walau dalam se­jum­lah survei mengatakan bahwa suara partai Islam akan jatuh pada pemilu 2014, namun perlu diingat bahwa dalam pemilu legislatif, saat ini faktor partai tidak 100 persen menjadi penentu bagi pemilih untuk menentukan pilihannya. Faktor lain yang sangat mempengaruhi adalah faktor tokoh calon legislator. Dan dalam survei yang sering diadakan oleh lembaga survei, tidak pernah mempertimbang­kan hal ini. Dan yang jauh lebih penting adalah, survei itu sendiri bukanlah pemilu. Hasil survei sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum untuk menjudge sebu­ah partai menang atau kalah.

Untuk mengingatkan kita semua bahwa dalam sejarah pemilu di Indonesia, pernah terjadi bagaimana luar bia­sa­nya penolokan sejum­lah besar masyarakat Indonesia terha­dap orde baru yang notabene memiliki hubungan kuat dengan partai Golkar. Tapi apakah kemudian par­tai Golkar serta merta terpu­ruk? Dengan kelihaiannya, partai golkar malah mampu menarik suara masyarakat dengan menggunakan tokoh masya­rakat sebagai calon legisla­tornya. Walhasil, suara partai golkar pun tetap tinggi, meski se­be­tulnya masyarakat hanya lebih memilih tokoh bukan partainya. Artinya ketokohan calon legislator juga sangat menentukan bagaimana pero­le­han suara sebuah partai.

Ketiga, sudah menjadi pengetuhuan publik bahwa politik itu sangat dinamis. Perubahan yang terjadi di masyarakat sangat mempe­ngaruhi kondisi perpolitikan itu sendiri. Kedinamisan tersebut bukan lagi dalam hitungan tahun ataupun bu­lan, namun sudah dalam hitungan jam dan menit. Artinya survei yang terjadi saat ini hanya menggam­barkan kondisi saat survei dilakukan, boleh jadi kon­disinya tidak lagi sama saat survei itu diumukan. Sehingga tidak tepat menjadikan hasil survei untuk menggambarkan bagaimana hasil pemilu 2014 yang masih dua tahun lagi. Sejarah mencatat bagaimana partai demokrat yang hanya partai menengah dengan mengejutkan bisa menjadi partai besar. Segala perubahan masih sangat bisa terjadi.

Dengan tiga pertimbangan tersebut saya menilai bahwa pemilu 2014 nanti belum bisa dikatakan sebagai kiamatnya partai Islam. Faktor yang menjadikan kiamatnya partai­nya itu sendiri bukanlah oleh berbagai survei saat ini. Namun bagaimana tingkah laku politisinya jauh lebih akan mempengaruhi nasib partai Islam itu kedepannya. Jika memang Islam hanya dijadikan alat politik oleh sebuah partai, tentu masya­rakat tidak terlalu bodoh menilai akrobat para politisi. Memelih partai hanya karena berlabelkan Islam namun tingkah laku politisinya sa­ngat jauh dari Islam hanya akan menambah bobroknya bangsa ini. Bila ada yang mengatakan tidak penting partainya Islam atau tidak yang penting politisinya tidak koruptor juga tidak tepat. Masalahnya yang partai Islam saja ada yang korup, apalagi yang tidak Islam?

Maka dapatlah saya me­ngatakan bahwa memilih partai tidak bisa kemudian ditentukan hanya dengan mengatakan partai Islam atau nasionalis. Defenisi partai Islam itu sendiri masih dalam perdebatan, bagaimana pula mengkategorikannya. Jauh daripada itu, saya beralasan karena Islam tidak hanya sekadar kata, tapi ia adalah pembeda!

Dimuat Harian Haluan, Jumat 2 November 2012

Iklan

One comment on “Karena Islam Bukan Sekadar Partai (Tanggapan atas Tulisan Jeffrie Geovanie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s