Minangkabau Dulu dan Minangkabau Kini

AOleh: Tomi Wardana

Diantara banyak suku di Indonesia, Minangkabau adalah salah satunya. Ada keunikan tersendiri dari suku bangsa Minangkabau, misalnya saja keunikan dari sistem kekerabatan matrilineal dan juga falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Dari segi sistem kekerabatan, garis keturunan suku Minangkabau ditarik dari garis keturunan ibu. Dan sistem kekerabatan ini masih dianut sampai sekarang. Namun bagaimanakah dengan falsafah ABS SBK yang terkenal itu? masihkah dianut oleh orang Minang?

Harus kita akui bahwa unsur-unsur kebudayaan selalu berubah dari waktu ke waktu. Bagaimana masyarakat Minangkabau dewasa ini mengejewantahkan adat istiadatnya, hal itu tidaklah sepenuhnya sama dengan bagaimana leluhur orang Minang mempraktekkannya pada 100 atau 200 tahun yang lalu. Disadari atau tidak, perubahan zaman selalu membawa banyak nilai-nilai dan norma-norma baru. Kemajuan dan perkembangan yang telah lama diterima oleh masyarakat Minangkabau akan terpengaruh dengan nilai-nilai dan norma-norma tersebut.

Mungkin dulu Minangkabau dikenal sebagai kota serambi Mekkah, falsafah ABS-SBK seolah menguatkan julukan tersebut. Selain itu nama Minangkabau juga harum ke seantaro nusantara bahkan mendunia, karena dikenal sebagai pabrik otak. Minangkabau sempat pula menjadi pusat ilmu pengetahuan, peradaban dan juga pembaharuan dengan menjamurnya sekolah dan pesantren di ranah ini. Para ulama pembaharu dan sejumlah tokoh pun dilahirkan dari ranah Minang ini. Ketokohan mereka yang diakui di pentas naional dan dunia semakin mengharumkan nama Minangkabau.

Kita mungkin bangga dengan masa lalu Minangkabau yang harum semerbak. Namun apa yang kita saksikan sekarang? Minangkabau masa kini hanya tinggal kerabangnya saja. Jangankan diperhitungkan di pentas regional dan internasional, di pandang di pentas nasional saja sudah syukur. Bahkan sempat pula ada orang yang mempertanyakan mana ulama dan tokoh yang berpengaruh yang dilahirkan dari Minangkabau saat ini? Salahkah mereka bertanya demikian. Tentu saja tidak. Karena memang Minangkabau dulu dan kini tidakklah sama. Itu semua terjadi tak lain karena masyarakat tidak lagi setia dengan nilai-nilai adat dan agamanya.

Jika kita menyimak berita diberbagai media, sejumlah kelakuan anak muda Minang dan bahkan ada juga orang tua yang mencoreng nama baik Minangkabau. Tenda ceper, karaoke yang dijadikan tempat mesum, mobil bergoyang dan sejumlah tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan bagaimana adat budaya Minangkabau dan juga ajaran Islam. Itu semua selalu menghiasi berita di berbagai media setiap harinya.

Boleh jadi, pengaruh globalisasi dengan paham materialismenya telah mendobrak nila-nilai lokal yang ada di Minangkabau. Karena pengaruh budaya barat, akhirnya budaya sendiri ditinggalkan oleh masyarakat Minang. Bagaimana anak muda minang bisa bangga dengan budayanya sendiri, kalau setiap detik budaya barat selalu disuntikkan kedalam otaknya melalui berbagai media. Sistem komunikasi yang semakin cepat dan semakin modern mengakibatkan pengaruh dan perubahan yang sangat besar. Melalui sarana komunikasi, pandangan-pandangan, teknologi, gaya hidup, mode, fashion, makanan, musik, film, dan sarana hiburan lainnya bisa diadopsi dengan cepat oleh masyarakat.

Pada akhirnya apa yang diadopsi tersebut segera menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, budaya populer tumbuh, berkembang dan diadopsi baik secara langsung maupun melalui proses modifikasi. Apabila tidak diansipasi dengan baik, maka akan membawa dampak buruk bagi masyarakat Minang. Apa yang masuk melalui berbagai media tersebut bisa dirasakan sebagai cara-cara untuk melemahkan moral.

Tayangan TV yang menimbulkan prilaku kekerasan dan kerusakan merupakan salah satu bagian dari budaya populer yang tidak siap untuk direspons secara arif. Contoh lain adalah pengaruh internet yang sesungguhnya bisa sangat berguna bagi kehidupan dengan memanfaatkannya sebagai media informasi yang tak terbatas dan membuat hidup menjadi lebih dan lebih berkualitas. Namun sayangnya, hal tersebut tidaklah didukung dengan pendidikan yang baik dan pegangan agama dan budaya yang tepat. Dampaknya internet menjadi media berkembangnya pornografi dan juga hanya dimanfaatkan untuk entertain ataupun games online. Tentu ini membawa dampak buruk yang merusak moral generasi muda.

Belum cukup sampai disana, di sisi lain kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya sokongan dan perhatian dari pemerintah dan tigo tungku sajarangan untuk mempertahankan eksistensi budaya Minang. Kalaupun ada yang dilakukan itu pun bersifat spontan, tidak terkoordinasi dan tidak tersistem dengan baik. Masalah lain adalah langkanya tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah yang bisa dijadikan contoh teladan, semakin melengkapi kemeranaan Minangkabau di zaman ini.

Akankah kita membiarkan kondisi tersebut semakin berlarut-larut? Masih adakah yang peduli? Sampai kapankah kita hanya bisa membanggakan masa lalu Minangkabau namun tidak bisa membanggakan masa kini dari Minangkabau itu sendiri. Jika kita merasa bahwa saatnya Minangkabau bangkit, maka kembali kepada falsafah ABS-SBK dapat menjadi salah satu solusinya. Tentu saja falsafah itu tidak hanya sekedar sebutan kosong yang tanpa penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi falsafah itu benar-benar dipraktekkan dalam keseharian. Syariat Islam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari falsafah ABS SBK harus tetap didalami sembari mengamalkannya dengan berangsur-angsur.

Semua itu tentu butuh sokongan. Tungku tigo sajarangan yang selama ini tidak berfungsi, harus difungsikan lagi. Ninik mamak, cadiak pandai dan alim ulama harus bersinergi dengan pemerintah agar falsafah ABS SBK tidak hanya sekedar slogan kosong minus penerapan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s