Minangkabau Dulu dan Minangkabau Kini

AOleh: Tomi Wardana

Diantara banyak suku di Indonesia, Minangkabau adalah salah satunya. Ada keunikan tersendiri dari suku bangsa Minangkabau, misalnya saja keunikan dari sistem kekerabatan matrilineal dan juga falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Dari segi sistem kekerabatan, garis keturunan suku Minangkabau ditarik dari garis keturunan ibu. Dan sistem kekerabatan ini masih dianut sampai sekarang. Namun bagaimanakah dengan falsafah ABS SBK yang terkenal itu? masihkah dianut oleh orang Minang? Baca lebih lanjut

Iklan

Baringin Rindang: Lambang Kepemimpinan di Minangkabau

Oleh: Tomi Wardana

Baringin rindang ditangah koto – ureknyo tampek baselo – batangnyo tampek basanda – pucuaknyo cawang ka langik – dahannyo tampek bagantuang – daunnyo perak suaso – bungonya ambiak ka suntiang – buahnyo buliah dimakan – tampek bataduah katiko hujan – tampek balinduang katiko paneh

Demikianlah petatah-petitih yang menggambarkan tentang lambang seorang pemimpin di Minangkabau. Lambang yang diakui sejak dari nenek moyang kita. Dikhidmati baik oleh ninik mamak maupun anak-kemenakan. Jika kita renungkan, mengapa pohon beringin yang dijadikan sebagau lambang keagungan seorang pemimpin di Minangkabau, maka akan kita temui jawabannya bahwa terdapat begitu banyak sifat-sifat baik pada pohon beringin tersebut. Baca lebih lanjut

Mengenang Sosok Mohammad Yamin

Oleh: Tomi Wardana

Sebagai gudangnya pemimpin Nasional, Minangkabau telah melahirkan sejumlah tokoh nasional yang jasanya tak mungkin dilupakan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh Minang yang telah memberikan sumbangsih pemikirannya yang sangat berharga untuk bangsa Indonesia adalah Muhammad Yamin. Pahlawan asal ranah Minang ini lahir di Talawi (Sawahlunto) pada tanggal 23 Agustus 1903.

Melihat popularitas sosok Mohammad Yamin memang sering tenggelam apabila dibandingkan dengan Bung Karno, Bung Hatta, atau bapak-bapak bangsa Indonesia lainnya. Catatan-catatan sejarahnya pun hanya terselip di lipatan tebal buku sejarah yang teramat jarang dibuka oleh rakyat Indonesia. Boleh jadi kalah populernya nama M. Yamin dibandingkan nama tokoh-tokoh lain, menggambarkan sifat beliau yang tak suka menonjolkan diri dan lebih suka berkiprah sebagai tokoh di balik layar pergerakan kemerdekaan Indonesia. Baca lebih lanjut

Melestarikan Seni Shalawat Dulang di Minangkabau

Oleh: Tomi Wardana

Shalawat dulang merupakan salah satu tradisi seni Minangkabau yang mulai pudar digilas arus globalisasi. Menurut literature yang penulis peroleh, kesenian tradisional Minangkabau yang satu ini mulai muncul pada zaman Syeikh Burhanuddin di Pariaman yang biasa disebut dengan Salawik jo Dulang. Mulai hilangnya kesenian ini di tengah-tengah masyarakat sebenarnya adalah hal yang cukup memprihatinkan karena Shalawat dulang merupakan salah satu kekayaan seni yang patut dipertahankan.

Shalawat dulang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari alat yang digunakan sebagai sumber musik untuk mengiringi syair-syair yang didendangkan, yaitu dulang. Dulang adalah sebuah benda yang berbentuk seperti piring, tetapi ukurannya lebih besar dibandingkan piring yang biasa digunakan untuk makan. Dulang terbuat dari bahan sejenis tembaga, jadi ketika dipukul dulang tersebut akan mengeluarkan nada yang khas. Nada yang berasal dari dulang itulah yang digunakan sebagai musik pengiring syair.

Baca lebih lanjut

Mengenang Sosok Ulama Karismatik: Buya HAMKA

Oleh: Tomi Wardana

Siapa yang tak mengenal sosok ulama yang satu ini, seorang ulama karismatik asal ranah Minang. Ongku atau Buya Hamka itulah sapaan akrab baginya. Nama Hamka merupakan akronim dari nama asli beliau yaitu Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama karismatik, aktivis politik nan santun dan sekaligus penulis ternama yang amat terkenal dan telah mendunia.

Buya Hamka merupakan salah seorang putra terbaik yang pernah dimiliki ranah Minang ini, beliau dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatra Barat. Ayahnya bernama Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenal juga dengan Haji Rasul yang merupakan salah seorang pelopor gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Hamka kecil yang bernama Abdul Malik tumbuh di lingkungan agamis yang taat menegakkan sunnah Rasul. Selain ayahnya yang ulama, ibunya yang bernama Siti Safiyah Binti Gelanggar juga seorang yang terkenal dan bergelar Bagindo nan Batuah.

Baca lebih lanjut

Surau Sebagai Pranata Sosial di Minangkabau

Oleh: Tomi Wardana

Minangkabau sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal. Setiap anak yang lahir secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga ibu. Selain dikenal dengan sistem matrilinialnya, ada beberapa ciri khas lain yang melekat bagi suku Minangkabau. Diantaranya adalah kebiasaan merantau yang telah membudaya di kalangan orang Minang, dan juga mereka dikenal sebagai muslim yang taat.

Membaca sejarah Minangkabau, maka kita akan menemukan berbagai kekayaan adat dan budaya negri ini. Kearifan adat dan budaya Minangkabau yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman telah menjadi ciri khas negeri ini. Maka salah satu falsafah yang dikenal dari masyarakat Minangkabau adalah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS SBK), Syara’ mangato, Adat mamakai. Baca lebih lanjut

Etika Remaja Minang

Dahulu orang Minangkabau terkenal dengan keluhuran budinya. Mereka sangat akrab dengan falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK), syara’ mangato, adat mamakai. Intinya semua tetek bengek kehidupan orang minang disesuaikan dengan syariat Islam. Tidak terkecuali dengan akhlak, budi pekerti, etika dan sopan santun orang minang, dulu semuanya bersandikan kitabullah.

Bukan bermaksud untuk menepuk air di dulang. Bukan pula berkeinginan untuk megkritik suku sendiri. Namun kenyataannya falsafah ABS SBK itu kini tinggallah kenangan indah yang manis untuk dikenang namun sangat sukar untuk diulang. Kini falsafah itu hanya akan menjadi untaian kata mutiara yang sulit di realisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai agama kini sudah mulai pudar, adat-istiadat pun kini satu persatu mulai menghilang. Etika anak Minang pun kini mulai dipertanyakan.

Satu hari pasca lebaran lalu, penulis bersama keluarga pulang kampung ke Pasaman Barat, tepatnya di nagari Sikabau. Tidak banyak yang tau mungkin tentang keberadaan  nagari sikabau ini, karena memang daerahnya yang terpencil. Dari kota Padang setidaknya membutuhkan waktu 8 jam dengan mobil pribadi, termasuk melewati kebun sawit selama 90 menit. Saking terpencilnya daerah ini dulu sebelum tahun 2000-an masyarakat disana belum ada akses transportasi darat, mereka dulu hanya menggunakan transportasi laut berupa kapal boat.

Nagari sikabau boleh terpencil, namun apabila lebaran datang menjelang, nagari sikabau pun menjadi tempat wisata yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat yang berasal dari daerah-daerah di kabupaten Pasaman Barat dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan pantainya yang indah dan pemandangan lautnya yang lepas, ditambah pemandangan muaronya  yang sangat menawan. Walau kebersihan daerah pantai ini masih belum terjaga dengan baik, namun pengunjungnya tetap saja bejibun datang kesana.

Cerita bermula ketika penulis dari Padang menuju ke Pasaman. Di sepanjang jalan penulis melihat begitu banyak para pemuda dan pemudi naik motor berboncengan dengan berpelukan. Laju motornya paling Cuma 30 km/jam, tapi yang anehnya kok pegangannya seperti motornya berkecepatan 130 km/jam. Penulis berpikir, di tengah jalan raya saja mereka berani berbuat seperti itu, apatah lagi di tempat sepi. Entah apa lagi yang berani mereka perbuat.

Cerita berlanjut ketika penulis sudah sampai di nagari Sikabau. Sore harinya penulis berjalan menyusuri pantai di sana. Walau pada hari biasa daerah ini sangat lengang, namun ketika lebaran menjelang, daerah ini banjir dengan anak manusia. Tua, muda, pria, wanita, berbondong-bondong dari berbagai pelosok kabupaten Pasaman Barat memadati daerah pantai di sana. Sang muda mudi pun memanfaaatkan betul momen ini. Ada yang mandi bersama di pantai, ada yang hanya berjalan santai berduaan menyusuri pantai sambil berpegangan tangan dengan pasangannya, ada juga yang mojok berduaan dibawah pohon kelapa sambil menikmati es kelapa muda.

Demikianlah sebagian perilaku anak muda Minang saat sekarang ini. Dan itupun baru perilaku anak Minang yang berada di daerah yang cukup terpencil dan jauh dari perkotaan. Lalu bagaimana dengan perilaku anak Minang yang ada di perkotaan, kalau yang di daerah terpencil saja sudah sedemikian hebatnya. Tidakkah mereka mengenal lagi batas-batas pergaulan antara pria dan wanita? Tidakkah mereka diajarkan lagi bagaimana beretika di depan umum? Salahkah mereka berbuat hal yang demikian?

Setiap orang tentu memiliki pandangannya masing-masing. Sebagian masyarakat menganggap hal demikian biasa-biasa saja, toh mereka sudah dewasa, buat apa dilarang-larang. Namun pendapat inilah kiranya yang perlu diluruskan bersama. Kalau mereka sudah terbiasa melakukan hal-hal yang demikian di depan umum, bagaimanakah lagi ketika mereka berduaan di tempat yang sepi. Apapun bisa mereka lakukan. Lalu apakah hal yang demikian juga masih dapat dikatakan hal yang biasa?

Bukan bermaksud untuk men-generalisir semua anak muda Minang berperilaku demikian. Penulis yakin, ditengah carut-marut pergaulan pemuda saat sekarang ini, masih ada sebagian anak muda yang tetap memegang teguh nilai-nilai dan norma-norma agama dan adat istiadat di negri ini. Yang penulis sesalkan adalah sikap acuh tak acuh dari orang tua, ninik mamak, dan pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap degradasi etika anak muda Minang ini. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab, tetapi seolah berlepas tangan atas kekacauan dan carut marut pergaulan anak muda di ranah ini.

Setidaknya ada tiga unsur yang berperan dalam mempengaruhi perilaku dan etika seseorang, yaitu keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah. Ketiga unsur inilah yang paling bertanggungjawab atas degradasi etika anak muda saat ini. Keluarga sebagai madrasah pertama dan utama bagi seorang anak, sekolah atau lembaga pendidikan sebagai lembaga intelektual yang tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, serta masyarakat sebagai lembaga sosial tempat bersosialisasinya seseorang. Ketiganya memiliki peranan besar dalam mempengarudi etika seseorang.

Banyak kejadian di ranah ini, orang tua membiarkan dan parahnya malah menganjurkan anak remajanya pergi berduan bersama pacarnya. Tidak sulit kiranya bagi kita menemukan di daerah ini sepasang anak manusia yang berjalan berduaan berpegangan tangan di tengah keramaian. Sepertinya rasa malu itu kini sudah mulai hilang. Ditambah kepedulian masyarakat pun mulai berkurang. Semuanya serba diperbolehkan, termasuk yang tidak dibenarkan dalan ajaran Islam. Sistem nilai itu kini sudah rusak. Nilai agama, nilai adat-istiadat, norma dan etika kini hanya sebatas formalitas semata. Semuanya dipakai hanya untuk acara formal saja.

Di sebagian kota dan kabupaten sekarang memang sudah ada usaha menyelenggarakan pesantren ramadhan sebagai salah satu upaya membumikan kembali ABS SBK di hati anak muda Minang. Namun terkadang para santriwan dadakan tersebut hanya sadar ketika mengikuti pesantrren ramadhan saja. Selepas ramadhan lulusan pesantren tersebut tidak lagi memperlihatkan perilaku sebagai alumni pesantren ramadhan.

Hal ini kiranya perlu menjadi pemikiran bersama bagi kita, bagaimana baiknya tindak lanjut dari pesantren ramadhan ini. Jangan sampai para santri tersebut hanya sadar ketika pesantren saja. Perlu adanya follow up, sehingga mereka tidak dilepas begitu saja setelah pesantren ramadhan tersebut.

Ditengah semakin kencangnya degradasi etika yang dialami anak muda Minang saat ini, pihak-pihak yang masih peduli akan nasib negeri ini ke depannya hendaklah memikirkan dengan serius berbagai solusi mengenai degradasi etika dan moral anak Minang. Perlu adanya sinergisitas antara pihak keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat untuk mengatasi permasalahan ini. Semoga setiap pihak menyadari pentingnya peranan mereka masing-masing untuk mengatasi persoalan ini. Dan kita berharap tidak ada lagi yang berlepas tangan dalam hal ini demi terbentuknya generasi muda yang bermoral dan beretika.

Tulisan ini pernah di publikasikan di harian  Singgalang September 2009