Degradasi Nilai Keminangkabauan

Oleh: Tomi Wardana

Dulu Minangkabau dikenal sebagai daerah yang kuat adat istiadatnya, disamping masyarakatnya yang terkenal juga sebagai pemeluk agama Islam yang taat. Tetapi saat ini semuanya seolah telah berubah, orang Minang atau dikenal juga dengan sebutan urang awak itu tidak lagi seperti dulu, adat istiadatnya tidak lagi dipegang kuat, dan Islam sebagai agama yang dianutnya juga sudah tidak lagi sepenuhnya ditaatinya. Entah itu disebabkan oleh budaya Minang yang memang bersifat terbuka terhadap perubahan atau karena memang telah pudarnya nilai-nilai adat-istiadat dan religiusitas dari diri urang awak itu.

Bagi pendatang yang berkunjung ke ranah Minang akan terheran, setelah melihat gaya hidup dan corak fisik keseharian urang awak ini. Karena memang urang awak sudah mulai jauh dari kesan memegang kukuh adat istiadat dan agamanya. Sangat jarang ditemukan kebanggaan orang Minang dengan rumah panggungnya yang dikenal dengan rumah gadang itu. Urang awak sekarang bangga dengan rumah beton bertingkat yang dimilikinya. Begitu juga dengan anak gadis minang, tidak lagi bangga dengan baju kurungnya. Mereka malah bangga dengan baju modern yang serba kekurangan bahan dan transparan plus super ketat yang dipakainya. Baca lebih lanjut

Pudarnya Budaya Malu

Oleh: Tomi Wardana

Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang religius dan memegang teguh ajaran Islam. Dalam Islam sendiri ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa malu sebagian dari iman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa keimanan memiliki korelasi yang kuat dengan rasa malu. Namun bagaimanakah jika rasa malu mulai pudar ditengah masyarakat? Apakah ini juga mengindikasikan mulai redupnya keimanan ditengah masyarakat tersebut? Hal itulah agaknya yang tengah terjadi saat ini ditengah-tengah masyarakat Minangkabau.
Malu seharusnya tertancap kuat didalam diri seorang muslim. Karena dengan rasa malu inilah seseorang bisa menahan diri untuk terlepas dari melakukan perbuatan dosa. Saat ini rasa malu inilah yang mulai pudar dari masyarakat Minang. Rasa malu itu kini tidak lagi muncul ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan atau dosa. Ketika mencuri, mengemis dan melakukan perbuatan maksiat tidak ada lagi rasa malu untuk melakukannya. Maka akibatnya merebaklah berbagai penyakit masyarakat di daerah ini.
Baca lebih lanjut

KKN dan Budaya

Oleh: Tomi Wardana

Seiring semakin terbukanya arus informasi dan meningkatnya kebebasan pers setelah era Reformasi, semakin terang benderang praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang jamak terjadi di Indonesia. KKN telah berakar kuat dalam kepala manusia Indonesia yang melibatkan semua unsur pemerintahan dan masyarakat, seperti contohnya oknum di kepolisian, kejaksaan, kehakiman, departemen-departemen, gubernur, bupati, hingga DPR maupun DPRD.

Publik menjadi saksi, bagaimana hampir setiap harinya pers menyuguhkan berita KKN tentang aparat polisi yang disuap, jaksa yang disuap, hakim yang disuap, menteri yang korupsi, dirjen yang korupsi, gubernur yang korupsi, bupati yang korupsi, DPR yang disuap, DPRD yang korupsi, dan sebagainya.  Kesemua ini adalah realitas, bahwa KKN sejatinya telah mendarah-mendaging dalam birokrasi negara kita. Baca lebih lanjut

Bangga Berbahasa Indonesia

Oleh Tomi Wardana

Masihkah kita bangga dengan bangsa Indonesia? Dan masihkah kita bangga menggunakan bahasa Indonesia? Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah sebuah pertanyaan yang tidak penting dan berarti. Karena mungkin mereka tidak pernah berpikir betapa besar perjuangan para pejuang kita memeperoleh kemerdekaan dan menjaga keutuhan bangsa ini. Indonesia adalah sebuah negara yang didirikan di atas darah para pejuang, bukan pemberian ataupun hadiah dari bangsa lain.

Ketika para pendahulu negeri ini menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, pasti sudah melalui banyak pertimbangan. Apalagi pada situasi seperti saat itu, nilai-nilai primordialisme berbasis kesukuan dan kedaerahan dinilai masih sangat kuat. Sungguh, bukan hal yang mudah untuk bisa mengakomodasi aspirasi semua pihak ke dalam sebuah identitas keindonesiaan yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai wacana baru. Sebagai suatu bangsa, kita telah memiliki pertautan jati diri dengan menetapkan bahasa melayu yang kemudian dikenal dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tentu harapannya bahasa persatuan tersebut mampu menjadi perekat persaudaraan antaretnis seantaro nusantara. Baca lebih lanjut

Mempertanyakan Etika Polantas

Oleh: Tomi Wardana

Etika adalah kata lain dari moral. Artinya, tata cara berperilaku yang baik, yaitu yang sesuai dengan nilai-nilai yang baik, aturan yang baik, tujuan yang baik, menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, dan sebanyak-banyaknya memberi manfaat untuk orang lain. Karena itu, setiap perilaku yang tidak sesuai dengan tata cara yang baik dan merugikan orang lain, adalah perilaku yang tidak etis.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi sebagai polisi lalu lintas (Polantas) merupakan profesi yang rawan dengan tindak korupsi ataupun suap.  Mungkin hampir semua pembaca pernah ditilang oleh polantas, dan kebanyakan dikarenakan polantas tersebut yang mencari-cari kesalahan. Ujung-ujung dari tilang tersebut adalah duit, terlepas apakah duit tersebut memang untuk negara atau malah nangkring di saku sang polantas tersebut. Bukan bermaksud mendeskriditkan polantas secara keseluruhan namun penulis hanya ingin agar polantas kedepannya memegang teguh etikanya sebagai pelayan masyarakat.

Baca lebih lanjut

Rakyat Miskin (Tidak) Dilarang Kuliah

Oleh: Tomi Wardana

Banyak yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan primer. Pendidikan sangat penting dan tidak boleh dianggap sepele. Ada juga yang mengatakan pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif.

Dengan alasan itu juga pemerintah mulai serius menangani bidang pendidikan, katanya dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Katanya lagi pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama di masa depan dan apabila kita ingin menghindarkan diri sebagai salah satu negara terbelakang dan agar dapat turut berperan penting dalam percaturan dunia internasional.

Berbagai aturan dan regulasi benar adanya dibuat oleh pembuat kebijakan agar rakyat juga peduli dengan pendidikan. Atas dasar reformasi pendidikan sebagai respon terhadap perkembangan tuntutan global pemerintah sangat giat mensosialisasikan pentingnya pendidikan. Tapi sayangnya lagi-lagi semuanya hanya indah di peraturan saja. Dengan biaya pendidikan yang sangat mahal, kembali membuat rakyat menengah ke bawah berpikir ulang untuk memasukkan anaknya ke pendidikan tingkat lanjut, terkhusus perguruan tinggi.

Baca lebih lanjut

Dilema Lagu Anak Indonesia

Oleh: Tomi Wardana

Ketika memasuki awal tahun sembilan puluhan, kita masih sering mendengar lagu-lagu yang diperuntukkan bagi anak-anak di Indonesia. Lagu anak yang disiarkan melalui berbagai stasiun televisi dan radio saat itu memang mampu menarik perhatian pasar terutama anak-anak. Namun akhir-akhir ini kita rasakan bersama lagu anak Indonesia tengah berada pada titik nadir. Dimana sangat jarang sekali kita bisa menikmati dan mendengar lagu khusus untuk anak-anak yang disiarkan melalui media elektronik.

Prihatin rasanya ketika anak-anak Indonesia saat ini menyanyikan lagu-lagu yang sebenarnya bukan diperuntukkan bagi mereka. Anak-anak yang seharusnya memiliki dunia yang berbeda dengan orang dewasa seolah ‘dipaksa’ memasuki dunia orang dewasa melalui syair-syair lagu yang tengah top hits di pasaran. Dan lagu yang sedang top hits tersebut hampir semuanya bertemakan masalah cinta orang dewasa. Kalaupun ada yang tidak bertemakan cinta, cuma satu atau dua lagu yang bertemakan tentang persahabatan. Baca lebih lanjut