2013: Tahun (Panas) Politik

Oleh: Tomi Wardanathn politik

Banyak kalangan yang menyatakan bahwa 2013 merupakan Tahun Politik. Berbagai akrobat partai politik akan mewarnai tahun ini, baik itu itu pencitraan ataupun strategi menjatuhkan lawan politik. Di sepanjang tahun ini masyarakat akan disuguhkan banyak kejutan politik menjelang pesta demokrasi 2014.

Penetapan tersangka Andi Malarangeng (AM) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka gaduhnya politik 2013 ini. AM ditetapkan sebagai tersangka korupsi terkait pengadaan peningkatan sarana prasana olahraga di Hambalang tahun anggaran 2010-2012. AM pun memutuskan untuk mundur dari jabatan Menpora, Sekretaris dan Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat (PD). Baca lebih lanjut

Iklan

Karena Islam Bukan Sekadar Partai (Tanggapan atas Tulisan Jeffrie Geovanie)

Partai-partai-Islam-atau-berbasis-Massa-IslamOleh : Tomi Wardana

Sangat menarik apa yang disampaikan oleh Jeffrie Geovani dalam tulisannya “Senjakala Partai Islam” dimuat harian Haluan hari Kamis (1/11) lalu, sehingga membuat saya tergoda untuk menanggapinya. Panjang lebar Jefffrie Geovani memberikan alasan yang pada ujungnya menyimpulkan bahwa partai Islam tidak akan bersinar pada pemilu 2014 karena selama ini partai Islam hanya menggunakan Islam sebagai alat untuk memperoleh kekua­saan saja. Hal ini tersirat jelas dalam kalimat Jeffri “maka jika pada pemilu 2014 mendatang partai-partai Is­lam diprediksi suaranya akan turun drastis, barangkali publik sudah paham karena partai-partai agama itu tak lebih institusi politik yang menggunakan simbol-simbol agama sebagai alat kampanye politik”. Baca lebih lanjut

Daerah Otonomi Khusus Sumatra Barat, Mungkinkah?

Oleh: Tomi Wardanamk

Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) merupakan provinsi yang terletak di pesisir barat pulau Sumatera dan dikenal sebagai kampung halaman orang Minangkabau. Sudah lama provinsi ini diakui memiliki banyak kekhasan yang tidak dimiliki oleh pro­vinsi lain di Indonesia, baik dari latar belakang sejarah, budaya, adat istiadat, dan sosial kemasyarakatannya. Maka tak heran, pernah mun­cul opini untuk menjadikan Sumbar sebagai DIM (Daerah Istimewa Minangkabau). Tak ada salahnya bila sekarang saya hendak memunculkan ide untuk memunculkan opini Daerah Otonomi Khusus Sumbar. Untuk menuju ke­sana, tentu harus ada sesuatu yang istimewa yang dimiliki daerah ini. Baca lebih lanjut

Pemberontakan dalam Sejarah Minangkabau

Oleh: Tomi Wardana

Minangkabau yang dikenal sebagai daerah yang telah melahirkan banyak tokoh nasional, ternyata tak bisa dilepaskan dari beberapa kali pemberontakan yang pernah terjadi di ranah ini. Istilah “pemberontakan” tak selamanya harus dimaknai negatif. Contoh kasus adalah pemberontakan yang pernah dilakukan oleh rakyat Minang. Pemberontakan yang tersebut dilakukan dengan maksud untuk mengembalikan kebenaran dan keadilan yang telah hilang ditengah-tengah masyarakat pada saat itu.

Dalam sejarahnya Rakyat Minangkabau melakukan pemberontakan terhadap tata aturan yang dibangun oleh para penguasa zalim pada masanya. Pada saat itu mungkin anak negeri ini merasa bahwa para penguasa tidak lagi memberikan kebaikan dan kesejahteraan untuk masyarakat, maka perlawanan dengan “pemberontakan” pun mereka lakukan. Sehingga makna pemberontakan disini adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap kesewenangan penguasa yang telah mengabaikan kesejahteraan masyarakat. Maka  Minangkabau selalu terdepan berpartisipasi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.

Baca lebih lanjut

Optimalisasi Pemberdayaan Pariwisata Sumbar

Oleh: Tomi Wardana

Sumatera Barat sebagai salah satu propinsi yang ditetapkan sebagai sepuluh daerah tujuan wisata di Indonesia, seharusnya sudah bisa menjadikan pariwisata sebagai sumber pemasukan daerah terbesarnya. Namun sepertinya pariwisata Sumbar masih belum siap untuk itu, meski sudah dikaruniai dengan kekayaan dan kearifan budaya lokal serta ditunjang dengan keindahan alamnya yang sulit dicarikan tandingannya.

Hampir semua jenis wisata lengkap tersedia di daerah ini. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata belanja, wisata kuliner, wisata olahraga, hingga wisata religius lengkap tersedia di provinsi ini. Namun menurut website resmi Republik Indonesia www.indonesia.go.id menyatakan bahwa potensi pariwisata di Sumatra Barat tidak sebesar potensi pariwisata di Bali atau Yogyakarta. Padahal potensi pariwisata sumbar rasanya tidak kalah dengan potensi wisata di daerah Bali dan Jogyakarta. Hanya saja potensi yang sedemikian beragamnya masih belum terberdayakan secara maksimal sehingga masih kalah dibandingkan dengan daerah Bali atau Jogyakarta. Baca lebih lanjut

Pembantaian Sabra dan Shatila: Bukti Kekejian Bangsa Zionis Israel

Oleh: Tomi Wardana

Peringatan serangan gedung WTC dan Pentagon di Amerika Serikat yang terjadi pada 11 September 2001 lalu, selalu menjadi headline di berbangai media massa setiap bulan Septembernya. Tetapi hanya sedikit saja media massa yang mengekspos tentang bagaimana kekejian Pembantaian Sabra dan Shatila atau dikenal juga dengan pembantaian Chatila. Pembantaian ini terjadi di Beirut, Lebanon pada tanggal 16 September 1982 yang saat itu tengah diduduki Israel.

Sabra-Shatila adalah nama dua buah kamp pengungsian warga Palestina di wilayah Beirut Barat yang letaknya berhimpitan. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi lain seperti Mar Elias, Bour el-Brajneh dan sebagainya. Seperti layaknya kamp-kamp pengungsian Palestina lainnya, kamp pengungsian Sabra-Shatila yang luasnya tidak begitu besar dihuni oleh ribuan warga Palestina. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar sempit dan kumuh di mana fasilitas sanitasi dan kesehatan sangat tidak layak. Baca lebih lanjut

Krisis Moral: Masalah Utama Bangsa

Oleh: Tomi Wardana

Berbicara tentang moral sangat erat kaitannya dengan akhlak. Orang yang tidak bermoral selalu dikaitkan dengan orang yang akhlaknya bermasalah. Banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya yang menjadi persoalan utama bangsa kita – mungkin juga dunia- adalah krisis moral. Sederet kasus kriminal seperti pejabat korupsi, kasus pornografi, tawuran pelajar, dan sederet kasus kriminal lainnya bermula dan berawal dari moral para pelaku yang rusak dan bermasalah.

Kita sadari ataupun tidak, ternyata moral merupakan sesuatu yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Bukan bermaksud untuk menomorsatukan moral, namun realitanya moral akan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Apabila moral tidak lagi diindahkan, maka berbagai kekacauan dan permasalahan bangsa akan senantiasa muncul di masyarakat. Ketika moral telah diabaikan,  maka dapat dipastikan dikemudian hari akan muncul sederet tindak kriminal yang hanya akan meresahkan masyarakat. Maka persoalan moral harus menjadi hal yang diperhatikan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Baca lebih lanjut

EUPHORIA PIALA DUNIA DAN MASALAH PALESTINA

Oleh : Tomi Wardana

Akhir-akhir ini, euphoria piala dunia yang tengah berlangsung di Afrika sana memang sangat terasa dimana-mana. Mulai dari yang tua, muda, pria, wanita, pokoknya yang gila bola rela begadang demi menonton piala dunia. Namun ditengah euphoria piala dunia, teriakan, jeritan, dan erangan saudara muslimnya di Palestina sana mulai terlupa. Semuanya rela begadang untuk piala dunia, namun sangat berat dan enggan melantunkan seuntai do’a di tengah sunyinya malam untuk saudaranya di Palestina.

Sudah diketahui bersama bahwa Tragedi Palestina selalu berulang, termasuk pembantaian besar-besaran oleh institusi Yahudi sekitar dua tahun lalu yang menewaskan ribuan Muslim Palestina, hal yang sama juga mengemuka. Banyak dari umat Islam yang tidak sadar, bahwa akar persoalan Palestina sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga hari ini sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan dua aspek yaitu aspek akidah/syariah Islam dan politik.

Baca lebih lanjut

Kemandulan Ormas Islam di Mata Ummat

Oleh: Tomi Wardana

Cobaan dan ujian seolah tak pernah bosan melanda bangsa Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia kembali disentakkan dengan meletusnya bom dikawasan Mega kuningan. Air mata bangsa kembali mengalir, Indonesia kembali goncang, teroris kembali beraksi, umat Islam pun kembali dituding sebagai pelaku bom bunuh diri.

Terorisme kembali diidentikkan dengan Islam. Nama-nama yang dituding sebagai teroris pun sangat dekat dengan ummat Islam. Sebut saja nama Muhammad, Nur, Dien, Azhari, dan lain sebagainya. Kalaulah kita bertanya, Ummat Islam mana yang tidak kenal dengan nama Muhammad? Beliaulah Nabi akhir zaman yang telah membawa Agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh Alam.

Namun apa yang mau dinyana, sekarang nama Muhammad telah identik dengan nama pelaku teroris. Ummat kembali berpikir seratus juta kali untuk memberikan nama anaknya dengan nama-nama yang Islami. Karena mereka khawatir, dan mereka pun tidak rela nama anaknya sama dengan nama pelaku teroris.

Sungguh aneh bangsa ini. Disini kebenaran sulit untuk diungkap, yang benar bisa jadi salah, dan yang salah pun bisa jadi benar. Presiden RI beberapa waktu setelah meledaknya bom di Mega Kuningan, pernah mengungkap data intelijen kepada publik. Data intelijen menunjukkan kalau peledakan kali ini, besar kemungkinan berkaitan dengan kondisi politik yang mulai memanas. Presiden pun memberi isyarat, berkemungkinan juga aktor intelektual dari ledakan di Mega Kuningan ini adalah salah satu capres atau cawapres yang tidak senang dengan hasil pemilu.

Namun kembali yang bermain disini adalah kepentingan. Kepentingan asing, atau kepentingan ummat. Kalaulah kepentingan asing yang lebih kuat, Islampun kembali dicap sebagai agama teroris. Media dengan gegap gempita mengkampanyekan Islam identik dengan terorisme. Saat ini, kepada siapakah ummat harus mengadu ditengah kegalaun yang melanda? Kepada Ormas Islamkah, yang kini sudah mulai mandul ditengah kerisauan ummat?

Mengapa ormas Islam yang katanya membela ummat, kini hanya diam seribu bahasa. Partai Islam yang katanya membela kepentingan ummat Islam, kini hanya sibuk menghitung kursi di parlemen. Lalu ormas Islam mana lagi yang akan memperjuangan aspirasi ummat? Tak sedikit ormas yang mengatakan dirinya sebagai pembela umat. Sebut saja Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), Partai Keadilan Sejarhtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan berbagai organisasi masa yang katanya membela kepentingan umat Islam, kini mereka hilang dari peredaran.

Mereka hanya bisa diam membisu ketika Islam kembali dikaitkan dengan terorisme. Terlalu sibukkah mereka dengan urusan pribadi mereka? Hingga sudah tidak peduli lagi dengan kondisi ummat yang sangat resah dengan situasi saat ini. Sudah lupakah mereka dengan berbagai persoalan ummat yang mulai meradang ditengah keedanan zaman?

Seharusnya mereka malu menyebut diri sebagai ormas Islam kalau hanya bisa bersuara ketika kondisi normal. Mereka hanya bisa mengkampanyekan Islam ketika Islam tidak sedang dituding dan disudutkan. Namun ketika Islam mulai disudutkan ke lembah yang hina, mereka hanya diam duduk terpana. Tak ada yang bergerak memperjuangkan ummat ini. Tidakkah pernah ada niat bagi mereka, bersatu meluruskan opini yang terlanjur terbentuk, kalau Islam itu identik sebagai teroris.

Wahai Ormas yang memperjuangkan ummat, engkau itu harapan ummat. Janganlah berdiam ketika Islam diinjak-injak. Janganlah membisu ketika Islam diidentikkan dengan teroris. Orang mengikuti sunnah Rasul kini dicuragai sebagai teroris. Lelaki muslim dengan janggutnya, Perempuan muslimah dengan hijabnya, mereka kini dicurigai sebagai teroris. Lalu apa yang bisa kalian berikan?

Pencerahan apa yang bisa kau berikan untuk ummat ini wahai ormas Islam? Jangan hanya bisu ditengah keedanan ini, sudah saatnya kau meluruskan opini yang sengaja dilencengkan oleh pihal-pihak yang tidak senang dengan Islam. Wahai ormas Islam, kini kau merupakan tumpuan bagi ummat ini. Jangan bertindak sebagai pengecut dan pecundang, tapi bertindaklah sebagai pemberani dan pemenang.

Tulisan ini pernah dipublikasikandi harian singgalang Juli 2009

Saatnya Menolak Anugerah Pahlawan untuk Alm. Gus Dur

Seolah bangsa ini begitu mudah lupanya, akan berbagai hal yang telah dilakukan seorang Gus Dur pada masa hidupnya. Bagaimana dia menghina Al Quran dengan sebutan Al Quran sebagai Kitab Suci paling porno di dunia, belum lagi dia pernah mengakui eksistensi negara Israel dengan menjalin kerjasama ekonomi, padahal Israel adalah negara paling teroris dibandingkan raja teroris. Kini dengan gampangnya rakyat Indonesia mendukung Ia untuk mendapatkan gelar pahlawan. Parahnya berbagai fraksi partai Islam nun di gedung dewan sana malah mendukung. MEMPRIHATINKAN!!!

Katanya dulu membela kepentingan  umat, kini menjilat! Saatnya mempertanyakan partai Islam di DPR sana. Landasan apa yang ia pakai untuk mendukung seorang pentolan liberalis sebagai pahlawan bangsa. Mau cari sensasi? Na’uzubillah. Masihkah ada perjuangan partai Islam ini untuk menyampaikan suara umat Islam? Kalau hanya mau mencari suara, janganlah menamakan diri partai Islam. Umat Islam sudah bosan untuk dikibuli setiap saat.

Saatnya mempertimbangkan ulang, apakah pantas seorang yang membela kepentingan Liberalis di jadikan pahlawan di negeri ini. Kalau benar demikian, pantaslah negeri ini disebut negeri bedebah.