Menyingkap Rahasia Sukses Belajar

sbsJudul buku : Keajaiban Belajar
Penulis : Yunsirno
Penerbit : Pustaka Jenius Publishing
Tahun : Cetakan Pertama Maret 2010
Tebal : 179 halaman
Harga : Rp. 45.000

Belajar, sebuah keajaiban ketika bumi dan langit diciptakan gunung dan lautan ditundukkan daratan dihamparkan dengan tujuan, untuk manusia itu diciptakan ketika lahir, manusia bak kertas kosong gelas putih, lilin yang siap dinyalakan ya, siap untuk dinyalakan karena mereka menyimpan kunci kunci alam semesta yang tuhan titipkan iqro, bacalah.
Belajarlah password pertama Tuhan bagi manusia agar lilin itu menyala kunci itu akan membuka rahasia-rahasia tuhan rahasia-rahasia ilmu nya maka belajar bukanlah beban belajar adalah sebuah keajaiban. Keniscayaan bukti kekaguman,ungkapan kesyukuran kata lain kenikmatan dan jalan untuk mengenal tuhan mari belajar agar kita mengenal tuhan Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tintanya), Ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah kering)nya, Niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (ilmu dan hikmahnya). Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana (QS. Luqman :31)
“Jika engkau ingin dunia, raihlah dengan ilmu. Jika engkau ingin akhirat raihlah dengan ilmu. Jika engkau ingin meraih keduanya, raihlah dengan ilmu” Baca lebih lanjut

Iklan

Nasyid: Antara Syair dan Syiar

nsOleh Tomi Wardana

 

Nasyid merupakan salah satu jenis seni islami yang berbentuk syair-syair pujian, perjuangan, nasihat ataupun ingatan yang dibawakan dengan senandung. Nasyid telah berkembang sejak lama. Dahulu nasyid berupa shalawat dan syair-syair. Salah satu yang terkenal adalah shalawat Badar yang dibawakan oleh penduduk Madinah ketika menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.

Pada awalnya nasyid hanya dibawakan dengan musik yang sederhana sekali, bahkan ada yang tanpa musik sama sekali. Namun kini, nasyid telah dikembangkan sebagai media dakwah yang diharapkan dapat diterima oleh masyarakat umum. Bahkan sekarang ini telah dikenal jenis nasyid yang banyak berkembang memadukan beragam alat musik dengan syair-syair yang dikenal dengan sebutan Nasyid Kontemporer. Baca lebih lanjut

Pemberontakan dalam Sejarah Minangkabau

Oleh: Tomi Wardana

Minangkabau yang dikenal sebagai daerah yang telah melahirkan banyak tokoh nasional, ternyata tak bisa dilepaskan dari beberapa kali pemberontakan yang pernah terjadi di ranah ini. Istilah “pemberontakan” tak selamanya harus dimaknai negatif. Contoh kasus adalah pemberontakan yang pernah dilakukan oleh rakyat Minang. Pemberontakan yang tersebut dilakukan dengan maksud untuk mengembalikan kebenaran dan keadilan yang telah hilang ditengah-tengah masyarakat pada saat itu.

Dalam sejarahnya Rakyat Minangkabau melakukan pemberontakan terhadap tata aturan yang dibangun oleh para penguasa zalim pada masanya. Pada saat itu mungkin anak negeri ini merasa bahwa para penguasa tidak lagi memberikan kebaikan dan kesejahteraan untuk masyarakat, maka perlawanan dengan “pemberontakan” pun mereka lakukan. Sehingga makna pemberontakan disini adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap kesewenangan penguasa yang telah mengabaikan kesejahteraan masyarakat. Maka  Minangkabau selalu terdepan berpartisipasi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.

Baca lebih lanjut

Optimalisasi Pemberdayaan Pariwisata Sumbar

Oleh: Tomi Wardana

Sumatera Barat sebagai salah satu propinsi yang ditetapkan sebagai sepuluh daerah tujuan wisata di Indonesia, seharusnya sudah bisa menjadikan pariwisata sebagai sumber pemasukan daerah terbesarnya. Namun sepertinya pariwisata Sumbar masih belum siap untuk itu, meski sudah dikaruniai dengan kekayaan dan kearifan budaya lokal serta ditunjang dengan keindahan alamnya yang sulit dicarikan tandingannya.

Hampir semua jenis wisata lengkap tersedia di daerah ini. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata belanja, wisata kuliner, wisata olahraga, hingga wisata religius lengkap tersedia di provinsi ini. Namun menurut website resmi Republik Indonesia www.indonesia.go.id menyatakan bahwa potensi pariwisata di Sumatra Barat tidak sebesar potensi pariwisata di Bali atau Yogyakarta. Padahal potensi pariwisata sumbar rasanya tidak kalah dengan potensi wisata di daerah Bali dan Jogyakarta. Hanya saja potensi yang sedemikian beragamnya masih belum terberdayakan secara maksimal sehingga masih kalah dibandingkan dengan daerah Bali atau Jogyakarta. Baca lebih lanjut

Degradasi Nilai Keminangkabauan

Oleh: Tomi Wardana

Dulu Minangkabau dikenal sebagai daerah yang kuat adat istiadatnya, disamping masyarakatnya yang terkenal juga sebagai pemeluk agama Islam yang taat. Tetapi saat ini semuanya seolah telah berubah, orang Minang atau dikenal juga dengan sebutan urang awak itu tidak lagi seperti dulu, adat istiadatnya tidak lagi dipegang kuat, dan Islam sebagai agama yang dianutnya juga sudah tidak lagi sepenuhnya ditaatinya. Entah itu disebabkan oleh budaya Minang yang memang bersifat terbuka terhadap perubahan atau karena memang telah pudarnya nilai-nilai adat-istiadat dan religiusitas dari diri urang awak itu.

Bagi pendatang yang berkunjung ke ranah Minang akan terheran, setelah melihat gaya hidup dan corak fisik keseharian urang awak ini. Karena memang urang awak sudah mulai jauh dari kesan memegang kukuh adat istiadat dan agamanya. Sangat jarang ditemukan kebanggaan orang Minang dengan rumah panggungnya yang dikenal dengan rumah gadang itu. Urang awak sekarang bangga dengan rumah beton bertingkat yang dimilikinya. Begitu juga dengan anak gadis minang, tidak lagi bangga dengan baju kurungnya. Mereka malah bangga dengan baju modern yang serba kekurangan bahan dan transparan plus super ketat yang dipakainya. Baca lebih lanjut

Berpikir Kritis Melalui Sastra

Oleh: Tomi Wardana

Bagi sebagian orang dan bahkan kebanyakan masyarakat Indonesia selalu menganggap remeh sastra. Mereka mungkin berpikir sastra hanya sebagai bahan bacaan penghibur untuk mengisi waktu luang, dan tak lebih dari sekedar itu. Maka tak mengherankan apabila pembelajaran sastra di Indonesia selalu di nomor dua kan dibanding bidang ilmu lain. Karena anggapan yang beredar di tengah masyarakat bahwa dengan sastra masa depan tak terjamin.

Tak dapat di pungkiri sastra memang bukanlah sesuatu yang dapat menjamin masa depan seseorang bisa serta merta menjadi cerah dengan mempelajarinya. Berbeda mungkin dengan bidang ilmu lain seperti kedokteran, hukum, ekonomi, matematika, atau yang lainnya. Dengan bidang ilmu tersebut, mungkin ada ribuan dan bahkan jutaan lowongan pekerjaan yang menanti tamatannya. Tetapi meski demikian, sastra tetap memiliki pesona tersendiri untuk didalami bagi seseorang pecinta dan penikmat sastra. Baca lebih lanjut

Pudarnya Budaya Malu

Oleh: Tomi Wardana

Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang religius dan memegang teguh ajaran Islam. Dalam Islam sendiri ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa malu sebagian dari iman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa keimanan memiliki korelasi yang kuat dengan rasa malu. Namun bagaimanakah jika rasa malu mulai pudar ditengah masyarakat? Apakah ini juga mengindikasikan mulai redupnya keimanan ditengah masyarakat tersebut? Hal itulah agaknya yang tengah terjadi saat ini ditengah-tengah masyarakat Minangkabau.
Malu seharusnya tertancap kuat didalam diri seorang muslim. Karena dengan rasa malu inilah seseorang bisa menahan diri untuk terlepas dari melakukan perbuatan dosa. Saat ini rasa malu inilah yang mulai pudar dari masyarakat Minang. Rasa malu itu kini tidak lagi muncul ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan atau dosa. Ketika mencuri, mengemis dan melakukan perbuatan maksiat tidak ada lagi rasa malu untuk melakukannya. Maka akibatnya merebaklah berbagai penyakit masyarakat di daerah ini.
Baca lebih lanjut

KKN dan Budaya

Oleh: Tomi Wardana

Seiring semakin terbukanya arus informasi dan meningkatnya kebebasan pers setelah era Reformasi, semakin terang benderang praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang jamak terjadi di Indonesia. KKN telah berakar kuat dalam kepala manusia Indonesia yang melibatkan semua unsur pemerintahan dan masyarakat, seperti contohnya oknum di kepolisian, kejaksaan, kehakiman, departemen-departemen, gubernur, bupati, hingga DPR maupun DPRD.

Publik menjadi saksi, bagaimana hampir setiap harinya pers menyuguhkan berita KKN tentang aparat polisi yang disuap, jaksa yang disuap, hakim yang disuap, menteri yang korupsi, dirjen yang korupsi, gubernur yang korupsi, bupati yang korupsi, DPR yang disuap, DPRD yang korupsi, dan sebagainya.  Kesemua ini adalah realitas, bahwa KKN sejatinya telah mendarah-mendaging dalam birokrasi negara kita. Baca lebih lanjut

Pembantaian Sabra dan Shatila: Bukti Kekejian Bangsa Zionis Israel

Oleh: Tomi Wardana

Peringatan serangan gedung WTC dan Pentagon di Amerika Serikat yang terjadi pada 11 September 2001 lalu, selalu menjadi headline di berbangai media massa setiap bulan Septembernya. Tetapi hanya sedikit saja media massa yang mengekspos tentang bagaimana kekejian Pembantaian Sabra dan Shatila atau dikenal juga dengan pembantaian Chatila. Pembantaian ini terjadi di Beirut, Lebanon pada tanggal 16 September 1982 yang saat itu tengah diduduki Israel.

Sabra-Shatila adalah nama dua buah kamp pengungsian warga Palestina di wilayah Beirut Barat yang letaknya berhimpitan. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi lain seperti Mar Elias, Bour el-Brajneh dan sebagainya. Seperti layaknya kamp-kamp pengungsian Palestina lainnya, kamp pengungsian Sabra-Shatila yang luasnya tidak begitu besar dihuni oleh ribuan warga Palestina. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar sempit dan kumuh di mana fasilitas sanitasi dan kesehatan sangat tidak layak. Baca lebih lanjut

Bangga Berbahasa Indonesia

Oleh Tomi Wardana

Masihkah kita bangga dengan bangsa Indonesia? Dan masihkah kita bangga menggunakan bahasa Indonesia? Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah sebuah pertanyaan yang tidak penting dan berarti. Karena mungkin mereka tidak pernah berpikir betapa besar perjuangan para pejuang kita memeperoleh kemerdekaan dan menjaga keutuhan bangsa ini. Indonesia adalah sebuah negara yang didirikan di atas darah para pejuang, bukan pemberian ataupun hadiah dari bangsa lain.

Ketika para pendahulu negeri ini menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, pasti sudah melalui banyak pertimbangan. Apalagi pada situasi seperti saat itu, nilai-nilai primordialisme berbasis kesukuan dan kedaerahan dinilai masih sangat kuat. Sungguh, bukan hal yang mudah untuk bisa mengakomodasi aspirasi semua pihak ke dalam sebuah identitas keindonesiaan yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai wacana baru. Sebagai suatu bangsa, kita telah memiliki pertautan jati diri dengan menetapkan bahasa melayu yang kemudian dikenal dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tentu harapannya bahasa persatuan tersebut mampu menjadi perekat persaudaraan antaretnis seantaro nusantara. Baca lebih lanjut